Echo Chamber
Martabat di Atas Keringat: Sintesa dan Teologi dalam Gerakan Buruh
Ditulis oleh: Solahudin Alayubi
Manifestasi kemanusiaan yang paling murni ditemukan dalam gerak tangan yang bekerja—sebuah ritme yang dalam sejarah peradaban disebut sebagai kerja. Kerja bukanlah sekadar pertukaran mekanis antara tenaga dan upah, melainkan sebuah tindakan eksistensial di mana manusia memproyeksikan dirinya ke dunia. Namun, dalam lintasan sejarah gerakan buruh, kita menyaksikan pergeseran menyakitkan, di mana subjek yang bekerja (manusia) sering kali tereduksi menjadi sekadar objek produksi (alat).
Hari Buruh, atau May Day, adalah sebuah monumen pengingat akan ketegangan abadi antara modal dan martabat. Dalam perspektif Islam, kerja disebut sebagai amal—salah satunya untuk memperoleh syukur—sebuah istilah yang mengintegrasikan dimensi fisik, intelektual, dan spiritual secara tak terpisahkan. Esai ini merupakan refleksi bagaimana nilai-nilai filosofis Barat tentang keadilan kelas dapat bersenyawa dengan prinsip Islam untuk merumuskan ulang posisi buruh dalam tatanan ekonomi modern yang semakin impersonal, di mana alienasi pekerja terhadap hasil karyanya kini menjadi tantangan nyata yang harus dijawab dengan rehumanisasi sistem ketenagakerjaan.
Sejarah gerakan buruh global yang berakar pada tragedi Haymarket (1886) mencerminkan perjuangan manusia untuk merebut kembali waktu hidupnya dari cengkeraman industrialisasi yang rakus. Filosofi “delapan jam kerja, delapan jam istirahat, delapan jam untuk apa yang kita mau” adalah sebuah pernyataan tentang kedaulatan diri atas waktu. Tanpa batas waktu kerja yang jelas, manusia kehilangan kesempatan untuk menjadi makhluk sosial, religius, dan kreatif—yang dalam istilah Karl Marx disebut sebagai alienasi.
Ketika seorang pekerja tidak lagi mengenali dirinya dalam produk yang ia buat, ia kehilangan sepotong kemanusiaannya. Islam memperkuat gagasan ini dengan prinsip karāmah (kemuliaan manusia), di mana seorang Muslim dilarang menghinakan dirinya sendiri atau dihinakan oleh orang lain melalui beban kerja yang melampaui batas kemampuan fisik dan mentalnya (QS. Al-Baqarah: 286).
Jika kapitalisme melihat waktu sebagai uang, maka teologi buruh melihat waktu sebagai amanah untuk pengabdian (‘abd al-jalīl). Dengan demikian, eksploitasi terhadap waktu buruh bukan hanya merupakan pelanggaran kontrak ekonomi, melainkan penodaan terhadap hakikat penciptaan manusia itu sendiri sebagai khalifah yang merdeka.
Dalam struktur ekonomi syariah, relasi antara pemilik modal (rabb al-māl) dan pekerja (ajīr) idealnya dibangun di atas fondasi kemitraan, bukan subordinasi yang menghamba. Secara akademis, konsep ini sering kali berbenturan dengan realitas pasar tenaga kerja modern yang cenderung asimetris, di mana posisi tawar buruh lemah akibat surplus tenaga kerja dan minimnya proteksi negara. Islam menawarkan solusi melalui prinsip keadilan distributif yang menekankan bahwa kekayaan tidak boleh hanya berputar di antara orang-orang kaya saja (QS. Al-Hasyr: 7).
Hal ini berarti sistem pengupahan tidak boleh hanya ditentukan oleh hukum pasar (permintaan dan penawaran), tetapi harus mempertimbangkan ujrah al-mithl (upah yang setara) dan kecukupan hidup bagi buruh untuk menjalankan kewajiban sosial dan agamanya. Keadilan ini menuntut transparansi dalam kontrak kerja (akad) yang sejak awal harus bebas dari unsur gharar (ketidakpastian) dan ẓulm (kezaliman). Tanpa kejelasan hak dan kewajiban, kontrak kerja hanyalah legalitas bagi sebuah bentuk perbudakan modern yang terselubung dalam istilah-istilah manajerial yang canggih.
Kritik terhadap ekonomi kontemporer sering kali tertuju pada fenomena gig economy dan outsourcing yang menciptakan “prekariat”—kelas pekerja yang hidup dalam ketidakpastian permanen tanpa jaminan masa depan. Secara filosofis, kondisi ini meruntuhkan stabilitas psikologis manusia yang membutuhkan rasa aman untuk berkembang. Dalam perspektif Islam, jaminan sosial dan perlindungan terhadap harta serta jiwa (ḥifẓ al-māl dan ḥifẓ al-nafs) adalah kewajiban kolektif.
Seorang pengusaha yang membiarkan pekerjanya berada dalam kerentanan finansial yang ekstrem, sementara ia meraup laba berlebih, telah melanggar prinsip iḥsān. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras melalui hadis tentang pemberian upah sebelum keringat mengering—yang secara epistemologis bermakna tentang kecepatan, ketepatan, dan keadilan dalam pemenuhan hak. Ini bukan sekadar soal teknis pembayaran, melainkan simbolisasi dari penghormatan terhadap energi hidup yang telah dikorbankan buruh. Di sinilah gerakan buruh menemukan landasan teologisnya: bahwa perjuangan menuntut upah layak adalah perjuangan menegakkan nilai-nilai ilahiah dalam bidang ekonomi.
Gerakan buruh di Indonesia memiliki keunikan karena tumbuh bersama semangat dekolonisasi, di mana tokoh-tokoh awal seperti Semaun dan Tjokroaminoto melihat buruh sebagai motor penggerak kedaulatan bangsa. Filosofi kemerdekaan Indonesia sejatinya adalah kemerdekaan dari segala bentuk penghisapan manusia atas manusia (l’exploitation de l’homme par l’homme).
Dalam konteks hari ini, tantangan buruh beralih ke meja-meja legislasi dan algoritma teknologi. Penggunaan kecerdasan buatan dan otomasi sering kali digunakan sebagai ancaman untuk menekan upah buruh, menciptakan narasi bahwa buruh adalah beban biaya yang harus ditekan. Padahal, secara akademis, produktivitas nasional tidak mungkin tercapai tanpa stabilitas kesejahteraan kelas bawah. Islam memandang bahwa keberkahan dalam bisnis terletak pada kesejahteraan orang-orang yang membantunya. Sebagaimana hadis:
“Kamu tidaklah diberi pertolongan dan rezeki melainkan karena orang-orang lemah di antara kamu.”
Logika ini membalikkan paradigma kapitalisme: kekayaan pemilik modal justru bergantung pada kemakmuran buruhnya, bukan pada penindasan terhadap mereka.
Secara sosiologis, peran serikat buruh dalam Islam dapat dipandang sebagai bentuk amar ma‘rūf nahi munkar di ruang publik. Serikat buruh adalah institusi musyawarah yang berfungsi menyeimbangkan kekuasaan di tempat kerja agar tidak terjadi kesewenang-wenangan (ṭughyān). Dialog sosial antara buruh, pengusaha, dan pemerintah harus didasarkan pada kejujuran intelektual dan kemaslahatan umum (maṣlaḥah mursalah).
Ketika regulasi seperti UU Cipta Kerja memicu kontroversi, pendekatan Islam menuntut adanya peninjauan kembali melalui kacamata keadilan bagi yang paling lemah (mustaḍ‘afīn). Kebijakan publik yang baik adalah kebijakan yang mampu melindungi hak mereka yang paling tidak beruntung dalam struktur sosial.
Integrasi antara pemikiran Islam dan gerakan buruh juga menyentuh aspek etika lingkungan dan keberlanjutan. Buruh sering kali menjadi korban pertama dari degradasi lingkungan di sekitar area industri. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah pelayan alam, bukan penjarah. Sebuah industri yang memeras tenaga buruh sekaligus merusak ekosistem sekitarnya adalah industri yang melakukan dosa ganda.
Gerakan buruh modern harus mulai mengadopsi isu “green jobs” yang menjamin keselamatan kerja sekaligus kelestarian bumi. Filosofi mīzān (keseimbangan) dalam Al-Qur’an mengajarkan bahwa segala sesuatu dalam alam semesta ini memiliki ukuran dan proporsi. Jika keseimbangan antara hak buruh, keuntungan pengusaha, dan daya dukung alam terganggu, maka kehancuran sosial hanyalah tinggal menunggu waktu.
Menuju masa depan, profesionalisme buruh—atau dalam Islam disebut itqān (kesempurnaan dalam bekerja)—harus diimbangi dengan sistem pendidikan dan pelatihan yang inklusif. Buruh tidak boleh dibiarkan tertinggal oleh arus teknologi tanpa adanya jembatan pengetahuan. Negara dan pemberi kerja memikul tanggung jawab moral untuk meningkatkan kapasitas intelektual buruhnya agar mereka tetap berdaulat di tengah disrupsi digital.
Pendidikan adalah kunci bagi buruh untuk naik kelas dari sekadar tenaga fisik menjadi tenaga ahli yang memiliki nilai tawar tinggi. Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, termasuk mereka yang berada di garis depan produksi. Dengan meningkatkan ilmu pengetahuan, buruh tidak hanya memperbaiki taraf ekonominya, tetapi juga memperdalam kualitas pengabdiannya kepada masyarakat. Ini adalah bentuk jihad ekonomi yang sebenarnya.
Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa peradaban yang besar tidak dibangun di atas air mata para pekerjanya, melainkan di atas keringat yang dihargai dengan martabat. Hari Buruh adalah pengingat bahwa setiap kontrak kerja membawa tanggung jawab metafisik yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Sintesa antara filosofi gerakan buruh yang progresif dengan teologi Islam yang humanis menawarkan jalan keluar bagi krisis kemanusiaan di dunia kerja modern. Keadilan tidak akan datang sebagai hadiah, melainkan harus diupayakan melalui kesadaran kolektif dan kebijakan yang berpihak pada kaum lemah.
Mari kita jadikan setiap tetes keringat buruh sebagai benih bagi tumbuhnya keadilan sosial yang merata—di mana setiap manusia dapat bekerja dengan bangga, beristirahat dengan tenang, dan hidup dengan mulia. Semoga peringatan Hari Buruh tahun ini menjadi titik balik untuk menempatkan manusia di atas modal, dan martabat di atas kepentingan segelintir golongan, demi Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.
#pasundanupdate #hariburuh
Echo Chamber
UKM Seni Nusa Putra Jadi Peraih Penghargaan Terbanyak di Harmoni Budaya Festival 2026
Echo Chamber
KUMARA LEMAH KARUHUN: Menjawab Seruan Gubernur Jabar, Seni Pertunjukan Jadi Sekolah Karakter dan Kecerdasan Majemuk Generasi Muda
Sukabumi, 21 Mei 2026 – Dalam arus deras transformasi digital yang perlahan menggeser ruang interaksi nyata anak-anak, muncul kegelisahan besar dari berbagai kalangan. Generasi masa kini semakin kehilangan tontonan yang sejatinya menjadi tuntunan. Di saat yang bersamaan, wacana kuat yang digaungkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai urgensi memasukkan teater ke dalam sistem pendidikan sekolah sebagai pilar utama penguatan karakter, kini menemukan jawaban nyata dan bukti konkret.

Pasukan kumara melakukan formasi orai-orain saat latihan gabungan
Jawaban itu hadir megah dalam wujud KUMARA Lemah Karuhun: The Last Guardian, sebuah drama musikal budaya kolosal yang tidak hanya hadir untuk menghibur, melainkan juga telah teruji melalui kajian akademik sebagai media pembentukan karakter sekaligus peningkatan kecerdasan majemuk anak bangsa.
Penggagas sekaligus sutradara KUMARA, Indra Gandara, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa gagasan menjadikan seni pertunjukan sebagai media strategis pendidikan karakter sejatinya bukanlah hal baru baginya. Sejak tahun 2018, jauh sebelum wacana ini menjadi pembahasan publik secara luas, Indra telah konsisten menjalankan proses kreatif mendalam bersama anak-anak dan berbagai komunitas seni, membuktikan bahwa panggung adalah ruang hidup paling efektif untuk menumbuhkan kualitas manusia seutuhnya.
Kini, melalui KUMARA, visi besar tersebut direalisasikan dalam skala yang jauh lebih luas, lebih terstruktur, dan lebih berdampak bagi masyarakat Jawa Barat bahkan Indonesia.
“Keresahan kita sama, anak-anak hari ini banyak terpapar konten yang tidak menyentuh rasa, tidak membangun empati, dan melemahkan hubungan sosial. Di sisi lain, Bapak Gubernur Dedi Mulyadi telah mengingatkan kita semua bahwa teater dan seni pertunjukan harus masuk ke sekolah karena di situlah akar karakter dibentuk. Kami di KUMARA menyambut gagasan mulia ini bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan karya dan bukti nyata yang telah kami kaji secara ilmiah bertahun-tahun,” ungkap Indra Gandara di sela-sela latihan gabungan besar yang melibatkan tujuh komunitas seni dan lebih dari 120 pemain di Mardiyuana Cikembar, Kamis.
Yang menjadikan gerakan KUMARA istimewa dan berbeda dari pertunjukan seni biasa adalah landasan ilmiah yang kokoh. Indra Gandara menambahkan, seluruh konsep yang dibangun dalam KUMARA, khususnya yang berbasis pada kaulinan barudak Sunda atau permainan tradisional, telah melalui serangkaian riset mendalam dan kajian akademik dengan hasil yang luar biasa.
Data dan pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa seni pertunjukan yang dikemas melalui pendekatan permainan rakyat tidak hanya berfungsi melestarikan budaya, melainkan juga memiliki dampak signifikan dalam menguatkan fondasi karakter anak sekaligus meningkatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) secara menyeluruh.
“Kajian kami membuktikan, saat anak-anak terlibat dalam proses ini, mereka tidak hanya belajar berakting atau bergerak. Melalui kaulinan barudak yang kami hidupkan kembali dengan nilai baru, kecerdasan linguistik, logika-matematis, spasial, kinestetik, musikal, antarpribadi, intrapribadi, hingga kecerdasan naturalis berkembang secara bersamaan, alami, dan menyenangkan. Ini adalah metode pendidikan paling lengkap yang dimiliki leluhur kita, dan kami buktikan secara akademik bahwa metode ini jauh lebih efektif membentuk manusia cerdas dan berkarakter dibandingkan sekadar pembelajaran satu arah,” jelas Indra sebagai akademisi.

Pemeran Wira dan Nini Hejo
Dalam KUMARA Lemah Karuhun, pendekatan ini diterapkan secara utuh. Pertunjukan tersebut memadukan seni peran, musik etnik, tarian, seni bela diri pencak silat, tata artistik, serta nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal dalam satu kesatuan narasi yang kuat.
Di sini, anak-anak tidak diposisikan sekadar sebagai penampil latar, melainkan sebagai subjek utama yang memaknai setiap gerakan dan cerita. Nilai kebersamaan, kejujuran, keberanian, sportivitas saat kalah, rasa syukur saat menang, hingga rasa hormat kepada alam dan leluhur ditanamkan melalui pengalaman hidup di atas panggung.
Konsep ini sangat sejalan dengan visi Gubernur Jawa Barat yang berulang kali menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak anak yang pintar secara akademik, tetapi kosong secara budaya dan karakter.
“Teater adalah laboratorium kehidupan terbaik karena di sana anak belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain, belajar memimpin, belajar bekerja sama, dan belajar menjadi manusia yang beradab,” ujarnya.
Lebih jauh, Indra Gandara menegaskan bahwa KUMARA hadir bukan sekadar sebagai tontonan seni, melainkan sebuah gerakan kebudayaan besar. Gerakan ini berupaya mengembalikan panggung pertunjukan pada fungsi aslinya, yakni sebagai ruang tumbuh kembang imajinasi, ruang pendidikan nilai, dan ruang pembentuk kesadaran kolektif bagi generasi masa depan.
Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana — kini Dana Indonesia Raya — serta pengelolaan pendanaan oleh LPDP semakin mengukuhkan bahwa negara menaruh harapan besar pada pendekatan ini sebagai model pemajuan kebudayaan berbasis pendidikan karakter.
“Pesan leluhur kami sampaikan kembali: ‘Lain kudu balik ka baheula, tapi geus wayah malikkeun pikir.’ Kita tidak perlu kembali hidup di masa lalu, tetapi kita harus mengembalikan cara berpikir bahwa kemajuan dan teknologi tidak boleh membuat kita kehilangan jati diri. Seni pertunjukan berbasis budaya adalah jembatan emasnya,” tambah Indra.
Melihat antusiasme peserta latihan yang datang dari berbagai usia dan latar belakang, serta dukungan luas dari masyarakat dan sekolah, KUMARA Lemah Karuhun yang akan digelar pada 14 Juni 2026 mendatang di Gedung Juang Kota Sukabumi, pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB, diprediksi akan menjadi tonggak sejarah baru.
Pertunjukan ini menjadi bukti bahwa seruan pemimpin untuk menjadikan seni sebagai tulang punggung pendidikan karakter telah dijawab dengan karya agung yang siap melahirkan generasi cerdas, berbudi luhur, dan mencintai akar budayanya sendiri.
Bagi Indra Gandara dan timnya, ini baru permulaan.
“Setelah Sukabumi, model ini harus menyebar ke seluruh Jawa Barat dan Indonesia agar setiap anak bangsa mendapatkan haknya untuk tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya pintar otaknya, tetapi juga kaya hatinya dan kuat karakternya,” pungkasnya.
Echo Chamber
Pulau Kunti, Surga Tersembunyi di Geopark Ciletuh Sukabumi yang Tawarkan Snorkeling hingga Banana Boat
Pasundanupdate.com. – Kawasan Geopark Ciletuh Palabuhanratu kembali menghadirkan pesona wisata alam yang memikat wisatawan. Salah satu destinasi yang mulai banyak dilirik adalah Pulau Kunti, sebuah kawasan semenanjung batuan purba yang berada di Desa Mandrajaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Meski dikenal dengan nama “Pulau Kunti”, lokasi ini sejatinya bukan sebuah pulau, melainkan tanjung batuan purba yang berada di kawasan UNESCO Global Geopark Ciletuh. Destinasi ini menawarkan perpaduan panorama laut selatan, pasir putih, batuan eksotis, hingga keindahan bawah laut yang masih alami.

Foto: Rista – Pulau Kunti
Berjarak sekitar empat jam perjalanan dari pusat Kota Sukabumi, wisatawan dapat menuju kawasan Pantai Palangpang atau muara Sungai Ciletuh terlebih dahulu. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu nelayan atau boat wisata selama kurang lebih 20 hingga 30 menit menuju kawasan Pulau Kunti.
Keindahan Pulau Kunti terletak pada suasana alamnya yang masih asri. Air laut yang jernih berwarna biru kehijauan membuat kawasan ini cocok untuk aktivitas snorkeling dan wisata bahari lainnya. Tidak sedikit wisatawan yang datang untuk menikmati sensasi berenang di tengah laut sambil melihat hamparan terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang masih terjaga.
Selain snorkeling, pengunjung juga dapat menikmati aktivitas banana boat, trekking batuan purba, hingga menikmati panorama matahari terbit dan terbenam di kawasan pesisir selatan Sukabumi.
Salah satu daya tarik utama Pulau Kunti adalah keberadaan batuan purba berusia sekitar 55 hingga 65 juta tahun. Kawasan ini bahkan disebut sebagai salah satu geosite penting di Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang memiliki nilai geologi tinggi.
Tidak hanya menyuguhkan wisata alam, Pulau Kunti juga menawarkan pengalaman petualangan yang lengkap. Wisatawan bisa menjelajahi gua alami, menikmati pasir putih yang tenang, hingga berburu foto Instagramable dengan latar laut lepas dan tebing hijau yang mengelilingi kawasan tersebut.
Paket Wisata Lokal Mulai Rp95 Ribu

Menariknya, kini wisata Pulau Kunti semakin mudah dinikmati melalui berbagai paket wisata yang ditawarkan pemandu lokal atau local guide Geopark Ciletuh.
Berdasarkan poster promosi yang beredar, tersedia beberapa pilihan paket wisata dengan harga terjangkau. Paket pertama dibanderol mulai Rp95 ribu per orang untuk minimal 10 peserta, sudah termasuk wisata pasir putih Pulau Kunti dan banana boat.
Sementara paket kedua dipatok Rp150 ribu per orang untuk minimal enam peserta, dengan fasilitas wisata pasir putih, banana boat, dan snorkeling.

Foto : Rista, Snorkeling Pulau Kunti
Adapun untuk paket reguler, wisatawan bisa memilih aktivitas secara terpisah, mulai dari wisata pasir putih Pulau Kunti Rp50 ribu per orang, banana boat Rp50 ribu, hingga snorkeling mulai Rp120 ribu per orang. Paket tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena menawarkan pengalaman wisata bahari dengan biaya yang relatif terjangkau.

Foto : Rista, Snorkeling Pulau Kunti
Selain harga yang ramah kantong, wisatawan juga difasilitasi perlengkapan keselamatan seperti life jacket dan pendamping lokal selama aktivitas laut berlangsung.
Namun demikian, wisatawan tetap diimbau menjaga kebersihan kawasan dan mematuhi aturan konservasi yang berlaku di kawasan Geopark Ciletuh. Beberapa informasi terbaru menyebutkan bahwa sebagian area Pulau Kunti mulai dibatasi untuk menjaga kelestarian ekosistem dan batuan purba di kawasan tersebut.
-
Hukum3 months agoDeadlock, Gugatan Wakaf Wali Kota Sukabumi Masuk Tahap Pembacaan Gugatan
-
Hukum2 months agoSidang ke-5 Gugatan Wakaf, Aktivis Tegaskan Ada “Penyelundupan Hukum” dalam Kerja Sama Pemkot Sukabumi–YPPDB
-
Editorial3 months agoRamadan 1447 H Jadi Momentum Perubahan Kolektif, Bukan Sekadar Ibadah Personal
-
Headline2 months agoBedah Buku “Menunggu dan Mati Waktu Luang”: Ruang Konsolidasi Perlawanan Ojol di Sukabumi
-
Uncategorized2 months ago“Menunggu di Jalan, Melawan di Waktu Luang: Suara Perlawanan Pengemudi Online dari Sukabumi”
-
Echo Chamber1 week agoKUMARA LEMAH KARUHUN: Menjawab Seruan Gubernur Jabar, Seni Pertunjukan Jadi Sekolah Karakter dan Kecerdasan Majemuk Generasi Muda
-
Feature3 months agoAsap Isep Sukabumi, Smoke House Kadudampit yang Tawarkan Sensasi Kuliner Asap dan Konsep Slow Living
-
Laporan Khusus4 months agoMulai 2026, Penulisan Tempat di Akta Wajib Cantumkan Kabupaten atau Kota



