Connect with us

Echo Chamber

KUMARA LEMAH KARUHUN: Menjawab Seruan Gubernur Jabar, Seni Pertunjukan Jadi Sekolah Karakter dan Kecerdasan Majemuk Generasi Muda

Published

on

Sukabumi, 21 Mei 2026 – Dalam arus deras transformasi digital yang perlahan menggeser ruang interaksi nyata anak-anak, muncul kegelisahan besar dari berbagai kalangan. Generasi masa kini semakin kehilangan tontonan yang sejatinya menjadi tuntunan. Di saat yang bersamaan, wacana kuat yang digaungkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai urgensi memasukkan teater ke dalam sistem pendidikan sekolah sebagai pilar utama penguatan karakter, kini menemukan jawaban nyata dan bukti konkret.

Pasukan kumara melakukan formasi orai-orain saat latihan gabungan

Jawaban itu hadir megah dalam wujud KUMARA Lemah Karuhun: The Last Guardian, sebuah drama musikal budaya kolosal yang tidak hanya hadir untuk menghibur, melainkan juga telah teruji melalui kajian akademik sebagai media pembentukan karakter sekaligus peningkatan kecerdasan majemuk anak bangsa.

Penggagas sekaligus sutradara KUMARA, Indra Gandara, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa gagasan menjadikan seni pertunjukan sebagai media strategis pendidikan karakter sejatinya bukanlah hal baru baginya. Sejak tahun 2018, jauh sebelum wacana ini menjadi pembahasan publik secara luas, Indra telah konsisten menjalankan proses kreatif mendalam bersama anak-anak dan berbagai komunitas seni, membuktikan bahwa panggung adalah ruang hidup paling efektif untuk menumbuhkan kualitas manusia seutuhnya.

Kini, melalui KUMARA, visi besar tersebut direalisasikan dalam skala yang jauh lebih luas, lebih terstruktur, dan lebih berdampak bagi masyarakat Jawa Barat bahkan Indonesia.

“Keresahan kita sama, anak-anak hari ini banyak terpapar konten yang tidak menyentuh rasa, tidak membangun empati, dan melemahkan hubungan sosial. Di sisi lain, Bapak Gubernur Dedi Mulyadi telah mengingatkan kita semua bahwa teater dan seni pertunjukan harus masuk ke sekolah karena di situlah akar karakter dibentuk. Kami di KUMARA menyambut gagasan mulia ini bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan karya dan bukti nyata yang telah kami kaji secara ilmiah bertahun-tahun,” ungkap Indra Gandara di sela-sela latihan gabungan besar yang melibatkan tujuh komunitas seni dan lebih dari 120 pemain di Mardiyuana Cikembar, Kamis.

Yang menjadikan gerakan KUMARA istimewa dan berbeda dari pertunjukan seni biasa adalah landasan ilmiah yang kokoh. Indra Gandara menambahkan, seluruh konsep yang dibangun dalam KUMARA, khususnya yang berbasis pada kaulinan barudak Sunda atau permainan tradisional, telah melalui serangkaian riset mendalam dan kajian akademik dengan hasil yang luar biasa.

Data dan pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa seni pertunjukan yang dikemas melalui pendekatan permainan rakyat tidak hanya berfungsi melestarikan budaya, melainkan juga memiliki dampak signifikan dalam menguatkan fondasi karakter anak sekaligus meningkatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) secara menyeluruh.

“Kajian kami membuktikan, saat anak-anak terlibat dalam proses ini, mereka tidak hanya belajar berakting atau bergerak. Melalui kaulinan barudak yang kami hidupkan kembali dengan nilai baru, kecerdasan linguistik, logika-matematis, spasial, kinestetik, musikal, antarpribadi, intrapribadi, hingga kecerdasan naturalis berkembang secara bersamaan, alami, dan menyenangkan. Ini adalah metode pendidikan paling lengkap yang dimiliki leluhur kita, dan kami buktikan secara akademik bahwa metode ini jauh lebih efektif membentuk manusia cerdas dan berkarakter dibandingkan sekadar pembelajaran satu arah,” jelas Indra sebagai akademisi.

Pemeran Wira dan Nini Hejo

Dalam KUMARA Lemah Karuhun, pendekatan ini diterapkan secara utuh. Pertunjukan tersebut memadukan seni peran, musik etnik, tarian, seni bela diri pencak silat, tata artistik, serta nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal dalam satu kesatuan narasi yang kuat.

Di sini, anak-anak tidak diposisikan sekadar sebagai penampil latar, melainkan sebagai subjek utama yang memaknai setiap gerakan dan cerita. Nilai kebersamaan, kejujuran, keberanian, sportivitas saat kalah, rasa syukur saat menang, hingga rasa hormat kepada alam dan leluhur ditanamkan melalui pengalaman hidup di atas panggung.

Konsep ini sangat sejalan dengan visi Gubernur Jawa Barat yang berulang kali menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak anak yang pintar secara akademik, tetapi kosong secara budaya dan karakter.

“Teater adalah laboratorium kehidupan terbaik karena di sana anak belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain, belajar memimpin, belajar bekerja sama, dan belajar menjadi manusia yang beradab,” ujarnya.

Lebih jauh, Indra Gandara menegaskan bahwa KUMARA hadir bukan sekadar sebagai tontonan seni, melainkan sebuah gerakan kebudayaan besar. Gerakan ini berupaya mengembalikan panggung pertunjukan pada fungsi aslinya, yakni sebagai ruang tumbuh kembang imajinasi, ruang pendidikan nilai, dan ruang pembentuk kesadaran kolektif bagi generasi masa depan.

Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana — kini Dana Indonesia Raya — serta pengelolaan pendanaan oleh LPDP semakin mengukuhkan bahwa negara menaruh harapan besar pada pendekatan ini sebagai model pemajuan kebudayaan berbasis pendidikan karakter.

“Pesan leluhur kami sampaikan kembali: ‘Lain kudu balik ka baheula, tapi geus wayah malikkeun pikir.’ Kita tidak perlu kembali hidup di masa lalu, tetapi kita harus mengembalikan cara berpikir bahwa kemajuan dan teknologi tidak boleh membuat kita kehilangan jati diri. Seni pertunjukan berbasis budaya adalah jembatan emasnya,” tambah Indra.

Melihat antusiasme peserta latihan yang datang dari berbagai usia dan latar belakang, serta dukungan luas dari masyarakat dan sekolah, KUMARA Lemah Karuhun yang akan digelar pada 14 Juni 2026 mendatang di Gedung Juang Kota Sukabumi, pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB, diprediksi akan menjadi tonggak sejarah baru.

Pertunjukan ini menjadi bukti bahwa seruan pemimpin untuk menjadikan seni sebagai tulang punggung pendidikan karakter telah dijawab dengan karya agung yang siap melahirkan generasi cerdas, berbudi luhur, dan mencintai akar budayanya sendiri.

Bagi Indra Gandara dan timnya, ini baru permulaan.

“Setelah Sukabumi, model ini harus menyebar ke seluruh Jawa Barat dan Indonesia agar setiap anak bangsa mendapatkan haknya untuk tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya pintar otaknya, tetapi juga kaya hatinya dan kuat karakternya,” pungkasnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Echo Chamber

UKM Seni Nusa Putra Jadi Peraih Penghargaan Terbanyak di Harmoni Budaya Festival 2026

Published

on

Pasundanupdate.com. – SUKABUMI ,Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Universitas Nusa Putra, Lisensi, tampil sebagai peraih penghargaan terbanyak dalam ajang Harmoni Budaya Festival 2026. Acara yang berlangsung pada 23–24 Mei 2026 tersebut diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Vokasi IPB Sukabumi melalui Departemen Seni dan Budaya.

Dalam kompetisi yang diikuti lebih dari 300 peserta dari 12 perguruan tinggi se-Jabodetabek dan Jawa Barat itu, delegasi Universitas Nusa Putra sukses membawa pulang lima penghargaan dari tiga kategori lomba utama, yakni musik, karya visual, dan tari.

Prestasi tersebut diraih melalui penampilan gemilang mahasiswa Universitas Nusa Putra di berbagai cabang perlombaan. Pada kategori Solo Vokal, Xena Leviana Br. Siregar berhasil meraih Juara 1, sementara Nabila Syahputri memperoleh Juara 2.

Di kategori Poster Digital, Cristian Cahayadi sukses meraih Juara 3 melalui karya visual yang dinilai memiliki kekuatan pesan budaya dan nilai estetika tinggi.

Sementara itu, kategori tari menjadi penyumbang penghargaan terbanyak bagi Lisensi. Grup Tari Swarnadewi berhasil meraih Juara 1 dengan penampilan memukau yang mendapat apresiasi tinggi dari dewan juri. Kelompok tersebut beranggotakan Mukhti Aulia Nazar, Aliza Ainun Salsabila, Intan Apriliani, Ruaida, dan Ayu Sri Mulyani.

Tak kalah membanggakan, Grup Tari Raspati juga sukses meraih Juara 3 berkat kekompakan tim dan kualitas gerak yang dinilai kuat selama penampilan. Grup ini terdiri atas Indah Nursyafitri, Az Zahra Khoirunnisha, Meli Amelia, Putri Noviar, dan Farisa Oktavia Sumantri.

Keberhasilan dua kelompok tari tersebut melengkapi capaian Lisensi yang tahun ini berhasil membawa pulang total lima penghargaan sekaligus. Hasil itu menempatkan UKM Seni Universitas Nusa Putra sebagai salah satu kontingen paling menonjol dalam festival seni mahasiswa tersebut.

Koreografer Divisi Tari Lisensi, Sekaligus kepala bidang pendidikan dan kebudayaan Di Yayasan Bumi Karuhun Kadudampit (YBKK), Indra Gandara, S.Pd., M.Pd., mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses latihan panjang dan kerjasama solid seluruh anggota tim.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi mahasiswa melalui seni. Yang terpenting bukan hanya hasil yang diperoleh, tetapi juga proses pembelajaran, disiplin, dan kolaborasi yang terbangun selama persiapan,” ujar Indra.

Menurutnya, proses persiapan karya tari dilakukan secara bertahap melalui latihan rutin, penyempurnaan koreografi, hingga evaluasi berbagai aspek pertunjukan.

Dalam proses pembinaan, Indra didampingi oleh asisten koreografer Zein. Keduanya terlibat aktif dalam pengembangan konsep karya hingga pendampingan peserta selama masa persiapan dan pelaksanaan kompetisi.

Dukungan penuh juga diberikan oleh Viranie Dwi Monikawatie, M.Pd., selaku Pembina UKM Seni Universitas Nusa Putra. Ia menilai kegiatan seni mahasiswa memiliki peran penting dalam membangun kreativitas, kepercayaan diri, dan kemampuan kolaborasi mahasiswa.

“Partisipasi dalam festival seni menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk menampilkan hasil pembelajaran sekaligus memperluas wawasan melalui interaksi dengan peserta dari berbagai latar belakang institusi,” tambah Viranie.

Sementara itu, Ketua Panitia Harmoni Budaya Festival 2026, Rizky Pratama, memberikan apresiasi terhadap kualitas penampilan seluruh peserta, khususnya delegasi Universitas Nusa Putra.

“Standar penampilan tahun ini sangat tinggi. Penampilan dari UKM Seni Nusa Putra menjadi salah satu yang terbaik, baik dari segi kedalaman makna karya maupun kualitas teknis pertunjukan. Mereka layak menyandang predikat kontingen dengan perolehan penghargaan terbanyak tahun ini,” ungkap Rizky.

Harmoni Budaya Festival 2026 sendiri digelar sebagai wadah apresiasi bagi mahasiswa yang memiliki minat dan kemampuan di bidang seni dan budaya. Melalui berbagai kategori lomba yang diselenggarakan, peserta memperoleh kesempatan untuk menampilkan karya kreatif dalam bentuk pertunjukan maupun karya visual.

Bagi Lisensi, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengembangkan kegiatan seni di lingkungan kampus. Selain berfokus pada prestasi, organisasi ini juga mendorong mahasiswa menjadikan seni sebagai ruang pembelajaran, kolaborasi, dan pembentukan karakter.

Perolehan lima penghargaan sekaligus menunjukkan kontribusi nyata mahasiswa Universitas Nusa Putra dalam melestarikan dan mengembangkan seni, mulai dari musik, seni visual, hingga seni pertunjukan.

Dengan hasil tersebut, UKM Seni Universitas Nusa Putra menutup partisipasinya di Harmoni Budaya Festival 2026 dengan catatan sangat positif. Lima penghargaan yang diraih tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para peserta, tetapi juga mencerminkan komitmen organisasi dalam mendukung pengembangan seni dan budaya di kalangan generasi muda Indonesia.

Continue Reading

Echo Chamber

Pulau Kunti, Surga Tersembunyi di Geopark Ciletuh Sukabumi yang Tawarkan Snorkeling hingga Banana Boat

Published

on

Pasundanupdate.com. – Kawasan Geopark Ciletuh Palabuhanratu kembali menghadirkan pesona wisata alam yang memikat wisatawan. Salah satu destinasi yang mulai banyak dilirik adalah Pulau Kunti, sebuah kawasan semenanjung batuan purba yang berada di Desa Mandrajaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Meski dikenal dengan nama “Pulau Kunti”, lokasi ini sejatinya bukan sebuah pulau, melainkan tanjung batuan purba yang berada di kawasan UNESCO Global Geopark Ciletuh. Destinasi ini menawarkan perpaduan panorama laut selatan, pasir putih, batuan eksotis, hingga keindahan bawah laut yang masih alami.

Foto: Rista –  Pulau Kunti

Berjarak sekitar empat jam perjalanan dari pusat Kota Sukabumi, wisatawan dapat menuju kawasan Pantai Palangpang atau muara Sungai Ciletuh terlebih dahulu. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu nelayan atau boat wisata selama kurang lebih 20 hingga 30 menit menuju kawasan Pulau Kunti.

Keindahan Pulau Kunti terletak pada suasana alamnya yang masih asri. Air laut yang jernih berwarna biru kehijauan membuat kawasan ini cocok untuk aktivitas snorkeling dan wisata bahari lainnya. Tidak sedikit wisatawan yang datang untuk menikmati sensasi berenang di tengah laut sambil melihat hamparan terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang masih terjaga.

Selain snorkeling, pengunjung juga dapat menikmati aktivitas banana boat, trekking batuan purba, hingga menikmati panorama matahari terbit dan terbenam di kawasan pesisir selatan Sukabumi.

Salah satu daya tarik utama Pulau Kunti adalah keberadaan batuan purba berusia sekitar 55 hingga 65 juta tahun. Kawasan ini bahkan disebut sebagai salah satu geosite penting di Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang memiliki nilai geologi tinggi.

Tidak hanya menyuguhkan wisata alam, Pulau Kunti juga menawarkan pengalaman petualangan yang lengkap. Wisatawan bisa menjelajahi gua alami, menikmati pasir putih yang tenang, hingga berburu foto Instagramable dengan latar laut lepas dan tebing hijau yang mengelilingi kawasan tersebut.

Paket Wisata Lokal Mulai Rp95 Ribu

Menariknya, kini wisata Pulau Kunti semakin mudah dinikmati melalui berbagai paket wisata yang ditawarkan pemandu lokal atau local guide Geopark Ciletuh.

Berdasarkan poster promosi yang beredar, tersedia beberapa pilihan paket wisata dengan harga terjangkau. Paket pertama dibanderol mulai Rp95 ribu per orang untuk minimal 10 peserta, sudah termasuk wisata pasir putih Pulau Kunti dan banana boat.

Sementara paket kedua dipatok Rp150 ribu per orang untuk minimal enam peserta, dengan fasilitas wisata pasir putih, banana boat, dan snorkeling.

Foto : Rista, Snorkeling Pulau Kunti

Adapun untuk paket reguler, wisatawan bisa memilih aktivitas secara terpisah, mulai dari wisata pasir putih Pulau Kunti Rp50 ribu per orang, banana boat Rp50 ribu, hingga snorkeling mulai Rp120 ribu per orang. Paket tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena menawarkan pengalaman wisata bahari dengan biaya yang relatif terjangkau.

Foto : Rista, Snorkeling Pulau Kunti

Selain harga yang ramah kantong, wisatawan juga difasilitasi perlengkapan keselamatan seperti life jacket dan pendamping lokal selama aktivitas laut berlangsung.

Namun demikian, wisatawan tetap diimbau menjaga kebersihan kawasan dan mematuhi aturan konservasi yang berlaku di kawasan Geopark Ciletuh. Beberapa informasi terbaru menyebutkan bahwa sebagian area Pulau Kunti mulai dibatasi untuk menjaga kelestarian ekosistem dan batuan purba di kawasan tersebut.

Continue Reading

Echo Chamber

THE LAST GUARDIAN: Merawat Budaya, Menjaga Masa Depan Indonesia

Published

on

Gedung Widarya Kencana, Selasa, 12 Mei 2026 — Sebuah bangsa tidak selalu runtuh karena perang, krisis ekonomi, atau kemiskinan. Sering kali keruntuhan itu datang perlahan, nyaris tanpa sadar, disaat sebuah masyarakat kehilangan ingatan tentang asal dirinya sendiri. Ia lupa pada tanah tempat ia berpijak, lupa pada nilai yang membesarkannya, lupa pada permainan masa kecil yang mengajarkan kebersamaan, dan lupa pada suara leluhur yang dahulu menuntun arah kehidupan. Mungkin anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada halaman rumahnya sendiri, kaulinan barudak digantikan asuhan digital, dan budaya hanya tersisa sebagai seremoni tanpa jiwa. Sesungguhnya yang sedang diuji bukan tradisi saja, melainkan masa depan Indonesia.

Di tengah kegelisahan itu, lahirlah KUMARA LEMAH KARUHUN: The Last Guardian, sebuah drama musikal budaya yang akan digelar pada 14 Juni 2026 di Gedung Juang Kota Sukabumi, dalam dua sesi pertunjukan pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB. Pertunjukan ini merupakan sebuah ikhtiar kebudayaan—usaha sadar untuk mengembalikan manusia pada akar: tanah, alam, leluhur, dan nilai-nilai yang membentuk watak bangsa.

Diprakarsai oleh Indra Gandara, KUMARA LEMAH KARUHUN mempertemukan tujuh komunitas seni dan budaya dalam satu gerakan pertunjukan kolektif: My Sajiwa, Kakoncara, Sayang Iwung, Sekedart, Macan Tunggal, Gentra Swara Percussion, dan Sandhikara Community. Teater, tari, musik, pencak silat, artistik panggung, hingga kaulinan barudak Sunda dipadukan dalam satu dunia dramatik yang utuh. Ini adalah drama musikal budaya yang lahir dari semangat kolaborasi, karena kebudayaan tidak pernah tumbuh dari panggung yang berdiri sendiri, tetapi dari tangan-tangan yang bersedia saling menjaga serta bersifat cair dan dinamis.

Suasana latihan para kumara di GWK Kota Sukabumi

Lebih dari sekadar pertunjukan, KUMARA menjadi ruang pertemuan antar komunitas untuk membangun ekosistem kebudayaan yang hidup, serta sebagai langkah awal membangun peradaban melalui seni, budaya, dan pendidikan generasi muda.

Program ini juga sejalan dengan semangat pemajuan kebudayaan nasional yang dijalankan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana yang kini bertransformasi menjadi Dana IndonesiaRaya. Dalam skema Dana Abadi Kebudayaan tersebut, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bertindak sebagai Program Manager, sementara Lembaga Pengelola Dana Pendidikan berperan sebagai Fund Manager yang memastikan keberlanjutan pendanaan kebudayaan nasional. Negara menempatkan kebudayaan bukan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan fondasi utama peradaban bangsa.

Bagi Indra Gandara, persoalan terbesar hari ini bukan hanya derasnya perkembangan teknologi, melainkan semakin jauhnya manusia dari akar budayanya sendiri. Modernitas sering disalahpahami sebagai kewajiban meninggalkan masa lalu, seolah kemajuan hanya mungkin dicapai dengan melupakan asal-usul. Padahal, menurutnya, persoalannya bukan kita harus kembali ke masa lalu, tetapi sudah waktunya mengembalikan cara berpikir. “Lain kudu balik ka baheula, tapi geus wayah malikkeun pikir.” Sebuah kalimat sederhana yang sesungguhnya mengandung pesan besar tentang makna kemajuan.

Kegelisahan itu paling nyata terlihat pada Generasi Alpha—anak-anak yang tumbuh dekat dengan teknologi, tetapi semakin jauh dari halaman rumah, permainan tradisional, dan ruang sosial yang dahulu membentuk empati. Mereka mengenal dunia global, tetapi perlahan kehilangan bahasa lokal, kehilangan rasa memiliki, bahkan kehilangan hubungan dengan lingkungan tempat mereka hidup. Jika generasi ini kehilangan akar budaya, maka sesungguhnya bangsa ini sedang kehilangan masa depannya.

Karena itu, dalam KUMARA, anak-anak tidak hadir sekadar sebagai penampil. Mereka diposisikan sebagai katalis penerus nilai, penjaga bumi, dan pewaris masa depan budaya. Kaulinan barudak Sunda dihidupkan kembali bukan sebagai nostalgia romantik, tetapi sebagai ruang pembentukan rasa, sosial, dan identitas. Permainan tradisional adalah sekolah pertama tentang kebersamaan, keberanian, kekalahan, kemenangan, dan penghormatan terhadap sesama. Di sanalah karakter manusia dibentuk secara paling alami.

Negara sendiri telah memberikan landasan kuat melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menegaskan bahwa permainan rakyat, tradisi lisan, adat istiadat, dan pengetahuan tradisional merupakan objek penting yang harus dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan diwariskan. Kajian UNESCO tentang Intangible Cultural Heritage juga menegaskan bahwa permainan tradisional adalah bagian penting dari warisan budaya tak benda, karena di sanalah anak-anak membangun identitas, belajar nilai sosial, dan memahami komunitasnya.

Melalui KUMARA, tradisi dihubungkan dengan bahasa pertunjukan modern agar tetap relevan bagi generasi hari ini. Seni menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Teater, tari, musik, pencak silat, dan artistik dipersatukan dalam satu dunia dramatik yang utuh agar pesan budaya tidak terasa jauh, melainkan hangat dan hidup di hati penonton. Hubungan manusia dengan tanah, alam, dan warisan karuhun menjadi inti penting pertunjukan ini.

KUMARA hadir sebagai culture movement—gerakan kesadaran kolektif bahwa budaya harus dihidupkan melalui tindakan keseharian. Ini adalah ajakan bagi seluruh lapisan masyarakat—orang tua, guru, pemuda, tokoh agama, pelajar, pemerintah, hingga warga biasa—untuk ikut menjaga ruang hidup kebudayaan kita.

“Mencintai Indonesia tidak harus dengan merenggut apa yang sudah ada, tidak harus dengan menghapus tradisi demi modernitas, dan tidak pula dengan melupakan akar budaya demi terlihat maju. Justru cinta tanah air yang paling sejati adalah menjaga, merawat, dan meneruskan warisan yang telah dititipkan oleh para leluhur agar tetap hidup dalam langkah generasi berikutnya. Dan jika hari ini kita memilih merawat budaya, sesungguhnya kita sedang menulis masa depan Indonesia dengan akar yang kuat, jiwa yang utuh, dan harapan yang tidak pernah putus,” pungkas Indra Gandara.

#KUMARA #TheLastGuardian #BudayaSunda #Sukabumi #KaulinanBarudak #DramaMusikal #PemajuanKebudayaan #IndonesiaRaya #SeniBudaya #PasundanUpdate

Continue Reading

Favorit

Copyright © 2026 pasundanupdate.com.