Pemerintahan
Bukan Sekadar Akses Warga, Jembatan Prima Jantake Kini Hadirkan Keceriaan Anak-anak di Sungai Cimandiri
PASUNDANUPDATE.COM, SUKABUMI – Gelak tawa anak-anak memecah suasana di bawah Jembatan Gantung Prima Jantake, Desa Sasagara, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (4/7/2026).
Mereka berenang dan bermain air di aliran Sungai Cimandiri tepat di bawah jembatan bersejarah yang baru saja diresmikan.
Pemandangan tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Di atas jembatan, warga bergantian berswafoto dan menikmati panorama Sungai Cimandiri. Sementara di bawah, anak-anak memanfaatkan air sungai yang jernih untuk berenang bersama teman-temannya.
Jembatan Gantung Prima Jantake diresmikan Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo bersama Bupati Sukabumi Aep Japar bertepatan dengan momentum Hari Bhayangkara ke-80.
Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo mengatakan tingginya antusiasme masyarakat terlihat sejak jembatan selesai dibangun. Banyak warga yang datang mengunjungi lokasi, terutama pada pagi dan sore hari selama masa libur sekolah.
“Alhamdulillah hari ini kita dapat meresmikan Jembatan Gantung Prima Jantake. Semoga jembatan ini memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama anak-anak yang berangkat sekolah, petani yang mengangkut hasil pertanian, hingga masyarakat yang membutuhkan akses cepat menuju rumah sakit dalam kondisi darurat,” kata Sentot.
Ia menambahkan, keberadaan jembatan tersebut tidak hanya menjadi sarana penghubung masyarakat, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata baru.
“Kawasan di sekitar Sungai Cimandiri sangat potensial dikembangkan menjadi lokasi arung jeram hingga spot swafoto yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Anak-anak Tengah Berenang di Bawah Jembatan Jantake Sungai Cimandiri
Sementara itu, Bupati Sukabumi Aep Japar mengapresiasi Polres Sukabumi Kota yang telah membangun kembali Jembatan Prima Jantake melalui program Hari Bhayangkara ke-80.
Menurut Aep, jembatan yang dibangun sejak tahun 1922 pada masa kolonial Belanda itu memiliki peran strategis karena menghubungkan Desa Sasagara dan Desa Bojonglongok, sekaligus menjadi akses penting bagi masyarakat di Kecamatan Kebonpedes, Nyalindung, dan Gegerbitung.
“Jembatan ini sangat luar biasa manfaatnya. Selain memperlancar distribusi hasil pertanian, juga memudahkan anak-anak menuju sekolah dan mempercepat masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan,” kata Aep.
Ia menjelaskan, selama bertahun-tahun jembatan tersebut hanya mendapat perbaikan sementara.
“Alhamdulillah melalui program Hari Bhayangkara ke-80 Polres Sukabumi Kota, jembatan ini akhirnya dibangun kembali secara permanen sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang,” ucapnya.
Kini, selain kembali menjadi jalur vital bagi aktivitas masyarakat, Jembatan Gantung Prima Jantake juga menghadirkan wajah baru kawasan Sungai Cimandiri.
Keceriaan anak-anak yang berenang di bawah jembatan dan ramainya warga menikmati pemandangan menjadi gambaran bahwa lokasi tersebut mulai tumbuh menjadi destinasi wisata keluarga di Kabupaten Sukabumi.
Olahraga
Dua Atlet RIAP Sabet Dua Sabuk Bergengsi, Founder H. Dadang Terima Penghargaan Kapolres Sukabumi Kota
PASUNDANUPDATE.COM SUKABUMI – Camp Bos Rumah Inspirasi Alus Pisan (RIAP) menorehkan prestasi membanggakan pada momentum Hari Bhayangkara ke-80. Dua atlet binaannya sukses membawa pulang dua sabuk bergengsi pada ajang Sukabumi Nyerenteng Day Volume II.
Sementara Founder RIAP, H. Dadang Kuswandi, menerima penghargaan dari Kapolres Sukabumi Kota atas dedikasinya dalam pembinaan generasi muda.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo di Gedung Juang 45, Kota Sukabumi, Rabu (1/7/2026).
Dua atlet yang mengharumkan nama Sukabumi itu adalah Mohamad Ramdan (20) yang sukses merebut Sabuk Kapolres Sukabumi Kota usai memenangi partai utama (main event), serta Rahmat Saepuloh (18) yang tampil sebagai peraih Sabuk Rumah Inspirasi setelah menunjukkan penampilan impresif di atas ring.
Tak hanya prestasi atlet, penghargaan juga diberikan kepada Founder RIAP, H. Dadang Kuswandi. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi Polres Sukabumi Kota atas dedikasi dan kontribusinya dalam pembinaan sumber daya manusia (SDM) serta dukungan menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) melalui berbagai kegiatan positif yang melibatkan generasi muda.
Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo mengatakan, Sukabumi Nyerenteng Day Volume II bukan sekadar ajang pertandingan bela diri, tetapi menjadi wadah pembinaan karakter, sportivitas, dan persaudaraan bagi para atlet muda.
“Mari sama-sama menjunjung tinggi sportivitas dan kondusivitas. Tampilkan kemampuan terbaik di atas ring, namun setelah pertandingan kita tetap berkawan. Jadikan ajang ini sebagai sarana meraih prestasi sekaligus mempererat persaudaraan,” ujar Sentot.
Ia menilai olahraga bela diri mampu membentuk disiplin, mental, dan karakter generasi muda sehingga diharapkan lahir lebih banyak atlet berprestasi yang mampu mengharumkan nama Sukabumi di tingkat yang lebih tinggi.
“Kami berharap semakin banyak atlet muda yang berkembang dan membawa nama baik daerah melalui prestasi yang diraih,” katanya.
Sementara itu, Founder RIAP H. Dadang Kuswandi mengaku bersyukur atas capaian dua atlet binaannya yang berhasil membawa pulang dua sabuk bergengsi.
“Alhamdulillah, Mohamad Ramdan berhasil meraih Sabuk Kapolres Sukabumi Kota dan Rahmat Saepuloh menjadi peraih Sabuk Rumah Inspirasi. Prestasi ini merupakan buah dari kerja keras para atlet, pelatih, dan seluruh tim yang selama ini konsisten melakukan pembinaan,” ujar Dadang.
Menurutnya, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilakukan RIAP berjalan ke arah yang positif. Ia memastikan RIAP akan terus mencetak atlet-atlet berprestasi sekaligus membangun karakter generasi muda melalui olahraga bela diri.
“Kami ingin olahraga bela diri menjadi wadah pembinaan karakter yang mampu menjauhkan generasi muda dari penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan berbagai bentuk kenakalan remaja. Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi atlet-atlet muda lainnya untuk terus berlatih dan mengukir prestasi,” pungkasnya.
Echo Chamber
KUMARA LEMAH KARUHUN: Menjawab Seruan Gubernur Jabar, Seni Pertunjukan Jadi Sekolah Karakter dan Kecerdasan Majemuk Generasi Muda
Sukabumi, 21 Mei 2026 – Dalam arus deras transformasi digital yang perlahan menggeser ruang interaksi nyata anak-anak, muncul kegelisahan besar dari berbagai kalangan. Generasi masa kini semakin kehilangan tontonan yang sejatinya menjadi tuntunan. Di saat yang bersamaan, wacana kuat yang digaungkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai urgensi memasukkan teater ke dalam sistem pendidikan sekolah sebagai pilar utama penguatan karakter, kini menemukan jawaban nyata dan bukti konkret.

Pasukan kumara melakukan formasi orai-orain saat latihan gabungan
Jawaban itu hadir megah dalam wujud KUMARA Lemah Karuhun: The Last Guardian, sebuah drama musikal budaya kolosal yang tidak hanya hadir untuk menghibur, melainkan juga telah teruji melalui kajian akademik sebagai media pembentukan karakter sekaligus peningkatan kecerdasan majemuk anak bangsa.
Penggagas sekaligus sutradara KUMARA, Indra Gandara, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa gagasan menjadikan seni pertunjukan sebagai media strategis pendidikan karakter sejatinya bukanlah hal baru baginya. Sejak tahun 2018, jauh sebelum wacana ini menjadi pembahasan publik secara luas, Indra telah konsisten menjalankan proses kreatif mendalam bersama anak-anak dan berbagai komunitas seni, membuktikan bahwa panggung adalah ruang hidup paling efektif untuk menumbuhkan kualitas manusia seutuhnya.
Kini, melalui KUMARA, visi besar tersebut direalisasikan dalam skala yang jauh lebih luas, lebih terstruktur, dan lebih berdampak bagi masyarakat Jawa Barat bahkan Indonesia.
“Keresahan kita sama, anak-anak hari ini banyak terpapar konten yang tidak menyentuh rasa, tidak membangun empati, dan melemahkan hubungan sosial. Di sisi lain, Bapak Gubernur Dedi Mulyadi telah mengingatkan kita semua bahwa teater dan seni pertunjukan harus masuk ke sekolah karena di situlah akar karakter dibentuk. Kami di KUMARA menyambut gagasan mulia ini bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan karya dan bukti nyata yang telah kami kaji secara ilmiah bertahun-tahun,” ungkap Indra Gandara di sela-sela latihan gabungan besar yang melibatkan tujuh komunitas seni dan lebih dari 120 pemain di Mardiyuana Cikembar, Kamis.
Yang menjadikan gerakan KUMARA istimewa dan berbeda dari pertunjukan seni biasa adalah landasan ilmiah yang kokoh. Indra Gandara menambahkan, seluruh konsep yang dibangun dalam KUMARA, khususnya yang berbasis pada kaulinan barudak Sunda atau permainan tradisional, telah melalui serangkaian riset mendalam dan kajian akademik dengan hasil yang luar biasa.
Data dan pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa seni pertunjukan yang dikemas melalui pendekatan permainan rakyat tidak hanya berfungsi melestarikan budaya, melainkan juga memiliki dampak signifikan dalam menguatkan fondasi karakter anak sekaligus meningkatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) secara menyeluruh.
“Kajian kami membuktikan, saat anak-anak terlibat dalam proses ini, mereka tidak hanya belajar berakting atau bergerak. Melalui kaulinan barudak yang kami hidupkan kembali dengan nilai baru, kecerdasan linguistik, logika-matematis, spasial, kinestetik, musikal, antarpribadi, intrapribadi, hingga kecerdasan naturalis berkembang secara bersamaan, alami, dan menyenangkan. Ini adalah metode pendidikan paling lengkap yang dimiliki leluhur kita, dan kami buktikan secara akademik bahwa metode ini jauh lebih efektif membentuk manusia cerdas dan berkarakter dibandingkan sekadar pembelajaran satu arah,” jelas Indra sebagai akademisi.

Pemeran Wira dan Nini Hejo
Dalam KUMARA Lemah Karuhun, pendekatan ini diterapkan secara utuh. Pertunjukan tersebut memadukan seni peran, musik etnik, tarian, seni bela diri pencak silat, tata artistik, serta nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal dalam satu kesatuan narasi yang kuat.
Di sini, anak-anak tidak diposisikan sekadar sebagai penampil latar, melainkan sebagai subjek utama yang memaknai setiap gerakan dan cerita. Nilai kebersamaan, kejujuran, keberanian, sportivitas saat kalah, rasa syukur saat menang, hingga rasa hormat kepada alam dan leluhur ditanamkan melalui pengalaman hidup di atas panggung.
Konsep ini sangat sejalan dengan visi Gubernur Jawa Barat yang berulang kali menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak anak yang pintar secara akademik, tetapi kosong secara budaya dan karakter.
“Teater adalah laboratorium kehidupan terbaik karena di sana anak belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain, belajar memimpin, belajar bekerja sama, dan belajar menjadi manusia yang beradab,” ujarnya.
Lebih jauh, Indra Gandara menegaskan bahwa KUMARA hadir bukan sekadar sebagai tontonan seni, melainkan sebuah gerakan kebudayaan besar. Gerakan ini berupaya mengembalikan panggung pertunjukan pada fungsi aslinya, yakni sebagai ruang tumbuh kembang imajinasi, ruang pendidikan nilai, dan ruang pembentuk kesadaran kolektif bagi generasi masa depan.
Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana — kini Dana Indonesia Raya — serta pengelolaan pendanaan oleh LPDP semakin mengukuhkan bahwa negara menaruh harapan besar pada pendekatan ini sebagai model pemajuan kebudayaan berbasis pendidikan karakter.
“Pesan leluhur kami sampaikan kembali: ‘Lain kudu balik ka baheula, tapi geus wayah malikkeun pikir.’ Kita tidak perlu kembali hidup di masa lalu, tetapi kita harus mengembalikan cara berpikir bahwa kemajuan dan teknologi tidak boleh membuat kita kehilangan jati diri. Seni pertunjukan berbasis budaya adalah jembatan emasnya,” tambah Indra.
Melihat antusiasme peserta latihan yang datang dari berbagai usia dan latar belakang, serta dukungan luas dari masyarakat dan sekolah, KUMARA Lemah Karuhun yang akan digelar pada 14 Juni 2026 mendatang di Gedung Juang Kota Sukabumi, pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB, diprediksi akan menjadi tonggak sejarah baru.
Pertunjukan ini menjadi bukti bahwa seruan pemimpin untuk menjadikan seni sebagai tulang punggung pendidikan karakter telah dijawab dengan karya agung yang siap melahirkan generasi cerdas, berbudi luhur, dan mencintai akar budayanya sendiri.
Bagi Indra Gandara dan timnya, ini baru permulaan.
“Setelah Sukabumi, model ini harus menyebar ke seluruh Jawa Barat dan Indonesia agar setiap anak bangsa mendapatkan haknya untuk tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya pintar otaknya, tetapi juga kaya hatinya dan kuat karakternya,” pungkasnya.
Opini
Aceh Tak Bisa Diseragamkan, MAA Jakarta Tegaskan Pentingnya Jaga Marwah Adat
PASUNDANUPDATE.COM – Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Jakarta, Surya Darma, menegaskan bahwa revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) bukan sekadar agenda legislasi, melainkan momentum penting yang menyangkut keberlanjutan perdamaian dan otonomi khusus Aceh.
Menurutnya, revisi UUPA harus diarahkan untuk memperkuat kekhususan Aceh, bukan justru menguranginya. “Ini adalah pertaruhan sejarah. Substansi revisi harus tetap berpijak pada kesepakatan damai dalam MoU Helsinki, yang menjadi dasar lahirnya kekhususan Aceh dalam bingkai NKRI,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga marwah adat dalam setiap perubahan regulasi. Nilai-nilai adat Aceh, kata dia, bukan hanya simbol, melainkan fondasi dalam tata kelola kehidupan masyarakat.
“Peradilan adat dan instrumen kearifan lokal harus mendapat pengakuan hukum yang lebih kuat dalam sistem nasional. Jangan sampai ada penyeragaman yang mengikis jati diri Aceh,” tegasnya.
MAA Dorong Penguatan Peran Adat
Sebagai representasi masyarakat Aceh di perantauan, MAA Jakarta terus menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat dan pemangku kebijakan lainnya. Surya menyebut, keterlibatan lembaga adat dalam pembahasan revisi UUPA merupakan keharusan, baik secara formal maupun substansial.
Ia memaparkan sejumlah poin strategis yang menjadi prioritas MAA dalam revisi tersebut. Di antaranya adalah penguatan kewenangan lembaga adat dalam mengatur tata ruang berbasis kearifan lokal seperti mukim dan gampong.
Selain itu, MAA juga mendorong kepastian Dana Otonomi Khusus (Otsus) agar bersifat berkelanjutan. “Dana Otsus harus memiliki payung hukum yang kuat dan berkelanjutan untuk mendukung pembangunan serta pelestarian budaya Aceh,” katanya.
MAA juga menyoroti pentingnya harmonisasi hukum agar tidak terjadi tumpang tindih antara regulasi nasional dengan kewenangan khusus Aceh, terutama dalam pengelolaan sumber daya alam.
Soroti Polemik JKA
Dalam kesempatan yang sama, Surya turut menanggapi polemik Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Meski bukan ranah utama MAA, ia menilai persoalan tersebut menyangkut aspek kemanusiaan yang tidak bisa diabaikan.
“JKA bukan sekadar persoalan fiskal, tetapi wujud keadilan sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama kalangan bawah. Ini sejalan dengan prinsip adat ‘Peumulia Wareh’ atau memuliakan sesama,” ungkapnya.
MAA Jakarta mendesak Pemerintah Aceh dan DPRA untuk mengedepankan kepentingan masyarakat dibanding ego sektoral. Program JKA, menurutnya, merupakan salah satu capaian penting pasca perdamaian yang harus dipertahankan.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dan validasi data kepesertaan agar program berjalan tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Perbaikan manajemen dan akurasi data menjadi kunci. Jangan sampai program yang baik justru terbebani karena data yang tidak valid,” tambahnya.
Harap Penyelesaian Lewat Musyawarah
MAA Jakarta berharap penyelesaian polemik JKA dilakukan melalui musyawarah atau mupakat, sesuai nilai-nilai adat Aceh. Pemerintah pusat juga diminta memberikan fleksibilitas regulasi agar Aceh tetap dapat menjalankan program perlindungan sosial secara mandiri.
“Yang terpenting, kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas utama. Semua pihak harus duduk bersama demi kepentingan rakyat,” pungkasnya.
-
Hukum3 months agoSidang ke-5 Gugatan Wakaf, Aktivis Tegaskan Ada “Penyelundupan Hukum” dalam Kerja Sama Pemkot Sukabumi–YPPDB
-
Hukum5 months agoDeadlock, Gugatan Wakaf Wali Kota Sukabumi Masuk Tahap Pembacaan Gugatan
-
Uncategorized3 months ago“Menunggu di Jalan, Melawan di Waktu Luang: Suara Perlawanan Pengemudi Online dari Sukabumi”
-
Editorial5 months agoRamadan 1447 H Jadi Momentum Perubahan Kolektif, Bukan Sekadar Ibadah Personal
-
Headline3 months agoBedah Buku “Menunggu dan Mati Waktu Luang”: Ruang Konsolidasi Perlawanan Ojol di Sukabumi
-
Echo Chamber2 months agoKUMARA LEMAH KARUHUN: Menjawab Seruan Gubernur Jabar, Seni Pertunjukan Jadi Sekolah Karakter dan Kecerdasan Majemuk Generasi Muda
-
Feature5 months agoAsap Isep Sukabumi, Smoke House Kadudampit yang Tawarkan Sensasi Kuliner Asap dan Konsep Slow Living
-
Echo Chamber2 months agoUKM Seni Nusa Putra Jadi Peraih Penghargaan Terbanyak di Harmoni Budaya Festival 2026
