Connect with us

Feature

Asap Isep Sukabumi, Smoke House Kadudampit yang Tawarkan Sensasi Kuliner Asap dan Konsep Slow Living

Published

on

Oleh : Lui Andrian
Editor : Tim Redaksi Pasundanupdate.com
Foto :   Highlander.Doc

Kabupaten Sukabumi – Kabupaten Sukabumi tidak hanya dikenal dengan pesona alamnya yang memukau, tetapi juga mulai berkembang sebagai destinasi wisata kuliner dengan konsep unik. Salah satu tempat yang kini menjadi perbincangan adalah Asap Isep, sebuah smoke house di kawasan Kadudampit yang menghadirkan pengalaman makan berbeda melalui teknik pengasapan tradisional dan filosofi slow living.

Berlokasi di kawasan sejuk kaki Gunung Pangrango, Asap Isep menawarkan lebih dari sekadar sajian makanan. Tempat ini menghadirkan suasana alam terbuka yang tenang, cocok bagi pengunjung yang ingin menikmati makanan lokal sambil melepas penat dari rutinitas perkotaan.

Mengusung Filosofi Slow Living

Di tengah gaya hidup serba cepat, Asap Isep hadir dengan pendekatan berbeda. Konsep slow living dan slow cooking menjadi identitas utama tempat ini. Setiap menu dimasak dengan proses perlahan menggunakan teknik pengasapan kayu bakar yang membutuhkan waktu cukup lama.

Pengelola Asap Isep menyampaikan bahwa konsep yang mereka usung adalah mengajak pengunjung untuk kembali ke alam dan menikmati momen tanpa tergesa-gesa.

“Pengunjung datang bukan hanya untuk makan, tetapi untuk merasakan suasana dan menikmati prosesnya,” demikian filosofi yang diangkat dalam konsep tempat tersebut.

Dengan latar pepohonan hijau dan udara segar pegunungan, suasana makan menjadi lebih intim dan menenangkan.

Sajian Andalan Smoke House

Sebagai Food lab dengan Dapur terbuka di hutan pangan dengan konsep smoke house, Asap Isep dikenal dengan berbagai menu berbasis teknik pengasapan dan menggunakan bahan lokal. Beberapa menu andalan yang banyak diminati pengunjung antara lain:

  • Brisket asap dengan tekstur lembut
  • Sop labu asap
  • Berbagai salad hutan

Proses pengasapan dilakukan dalam waktu berjam-jam sehingga menghasilkan rasa yang lebih dalam, aroma khas, dan tekstur daging yang empuk.

Selain menu utama, tersedia pula minuman hangat seperti kopi dan teh yang cocok dinikmati dalam suhu sejuk kawasan Kadudampit. Konsep kuliner seperti ini masih tergolong jarang di Sukabumi, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun warga lokal yang ingin mencoba sensasi berbeda.

Suasana Alam yang Menjadi Daya Tarik

Salah satu kekuatan utama Asap Isep terletak pada atmosfernya. Area makan dirancang semi outdoor dengan dominasi material kayu dan sentuhan alami. Pengunjung dapat menikmati pemandangan hijau sambil menyantap hidangan asap.

Fasilitas yang tersedia di kawasan ini meliputi:

  • Area makan terbuka dan semi outdoor
  • Spot foto dengan latar alam
  • Area santai untuk keluarga
  • Tempat berkumpul komunitas
  • Home Stay

Suasana tersebut menjadikan Asap Isep bukan sekadar restoran, melainkan destinasi wisata kuliner yang menawarkan pengalaman menyeluruh. Tidak jarang tempat ini dipilih sebagai lokasi acara komunitas, makan bersama keluarga besar, hingga pertemuan santai.

Potensi Wisata Kuliner Sukabumi

Kehadiran Asap Isep menjadi bagian dari perkembangan sektor ekonomi kreatif di Sukabumi, khususnya di bidang kuliner. Selama ini, Sukabumi lebih dikenal dengan wisata alam seperti pantai dan pegunungan. Namun, potensi wisata kuliner mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Konsep tematik seperti smoke house dengan pendekatan alami dinilai mampu menarik wisatawan dari luar daerah. Apalagi lokasinya berada di jalur strategis kawasan Kadudampit yang dikenal berhawa sejuk dan memiliki panorama indah.

Wisata kuliner berbasis pengalaman (experience-based dining) kini menjadi tren. Pengunjung tidak hanya mencari rasa, tetapi juga suasana dan cerita di balik makanan yang disajikan.

Asap Isep menjawab tren tersebut dengan menghadirkan pengalaman makan yang berbeda dari restoran konvensional.

Echo Chamber

REVOLUSI TEOLOGI KEPEDULIAN: Membedah Hakikat Perlindungan Anak Yatim Secara Filosofis dan Teologis

Published

on

Materi Pengajian Agung, 1 Muharram – Sodong

Oleh: Solahudin Al-Ayubi

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’inu ‘ala umurid-dunya wad-din. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, Sayyidina wa Maulana Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Bapak, Ibu, para tokoh masyarakat, alim ulama, segenap pemuda, serta seluruh jemaah pengajian kultural di tanah Sodong yang senantiasa dinaungi rahmat dan hidayah Allah SWT.

Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram bukan sekadar pergantian angka pada kalender atau selebrasi seremonial tahunan yang berlalu begitu saja tanpa bekas. Sebagai elemen bangsa yang sadar akan tanggung jawab sejarah dan sebagai pemuda negarawan, kita harus memandang Hijrah sebagai momentum transformasi kesadaran dan revolusi sosial. Hari ini, di tengah suasana spiritual yang hangat di Sodong, kita berkumpul untuk merefleksikan kembali salah satu mandat langit yang paling mendasar, yaitu komitmen profetis, etis, serta kepedulian nyata terhadap anak yatim.

Mari kita bedah mandat ilahi ini tidak hanya dengan pendekatan doktriner-tekstual yang kaku, melainkan melalui cakrawala falsafah yang mencerahkan, tajam, dan berkemajuan. Mulai dari ragam definisi, tinjauan ontologis, epistemologis, hingga manifesto aksiologisnya di tengah realitas kemasyarakatan.

I. Definisi dan Perluasan Makna: Siapakah Anak Yatim dalam Pandangan Islam?

Secara etimologi (lughatan), kata yatim (يتيم) berasal dari akar kata bahasa Arab yatama-yatimu yang berarti al-infiraad, yaitu sendiri, terasing, atau sebatang kara.

Sedangkan secara terminologi syariat (istilahan), anak yatim didefinisikan sebagai:

“Seorang anak yang ditinggal wafat oleh ayahnya sebelum mencapai usia baligh atau dewasa.”

Batas berakhirnya status keyatiman ini secara hukum fikih ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ

“Tidak ada keyatiman lagi setelah mimpi basah (baligh).” (HR. Abu Dawud).

Perluasan Makna Kontemporer: Sosiologis dan Struktural

Dalam konteks dakwah kultural dan gerakan sosial yang relevan dengan tantangan zaman, definisi ini mengalami perluasan makna secara sosiologis. Memahami makna “yatim” tidak boleh berhenti pada batas biologis semata. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk melihat anak yatim sebagai representasi kelompok masyarakat yang dilemahkan secara struktural (mustad’afin) yang wajib dibela, dilindungi, dan diselamatkan oleh sistem kemasyarakatan kita.

Jika seorang anak masih memiliki orang tua, namun hak-hak dasarnya untuk hidup layak, mendapatkan kasih sayang, serta memperoleh pendidikan yang mencerahkan terenggut oleh kemiskinan dan ketidakadilan ekonomi, maka secara substantif mereka wajib diadvokasi dan disantuni sebagaimana kita memperlakukan anak yatim.

Paradigma kepedulian ini harus diletakkan pada tiga pilar pemenuhan hak anak:

  • Hak Perlindungan Eksistensial, yaitu menjaga fisik, mental, dan ruang tumbuh mereka dari segala bentuk eksploitasi, kekerasan, maupun penelantaran emosional.
  • Hak Kecukupan Materi, yakni memastikan hak-hak ekonomi mereka terjamin melalui pengelolaan yang amanah, transparan, dan akuntabel.
  • Hak Pendidikan yang Mencerahkan, sebab santunan terbaik bagi anak yatim bukan sekadar bantuan konsumtif sesaat, melainkan jaminan akses pendidikan yang bermutu hingga mereka mandiri secara intelektual dan finansial.

II. Tinjauan Ontologis: Hakikat Keberadaan Anak Yatim dalam Kosmologi Iman

Secara ontologis, yakni cabang filsafat yang membahas hakikat keberadaan, muncul pertanyaan mendasar: mengapa Allah SWT menciptakan realitas kehidupan yang membuat sebagian anak kehilangan pelindung utamanya di usia dini?

Mengapa terdapat ketimpangan sosial, di mana sebagian anak tumbuh dengan fasilitas lengkap sementara sebagian lainnya harus berjuang sebatang kara? Apakah ini bentuk ketidakadilan kosmis?

Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Secara ontologis, keberadaan anak yatim di muka bumi merupakan instrumen ujian bagi manusia lain yang dianugerahi kelapangan hidup. Mereka dihadirkan bukan sebagai beban sosial, melainkan sebagai cermin spiritual untuk menguji apakah klaim keislaman kita bersifat substantif atau sekadar berhenti pada lisan.

Mari kita tadabburi firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma’un ayat 1–3:

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3).

Ayat ini membongkar hakikat iman yang sejati. Allah tidak terlebih dahulu mengaitkan pendustaan agama dengan orang yang meninggalkan salat, melainkan dengan mereka yang abai terhadap penderitaan sosial anak yatim.

Lebih lanjut, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fajr ayat 17–18:

كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَ ۝ وَلَا تَحَٰضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

“Sekali-kali tidak demikian. Sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim dan tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Fajr: 17–18).

Secara ontologis, memuliakan anak yatim merupakan fondasi kemuliaan sebuah peradaban, sedangkan menghardik mereka adalah awal dari keruntuhan moral suatu bangsa.

III. Tinjauan Epistemologis: Sumber Hukum dan Paradigma Gerakan

Secara epistemologis, yakni bagaimana ilmu dan dasar hukum dirumuskan, landasan pengasuhan dan perlindungan anak yatim bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, rasionalitas ilmu pengetahuan, serta kepekaan nurani kemanusiaan.

Perhatikan firman-firman Allah berikut.

1. Perintah Berbuat Baik dan Bersikap Adil

Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT menjajarkan perintah menyembah-Nya dengan kewajiban berbuat baik kepada anak yatim:

ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ

“Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.” (QS. An-Nisa: 36).

2. Larangan Memakan Harta Anak Yatim secara Zalim

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 10:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, pada hakikatnya mereka menelan api ke dalam perutnya dan kelak akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.” (QS. An-Nisa: 10).

Demikian pula dalam Surah Al-An’am ayat 152:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ

“Janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik, hingga ia mencapai usia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152).

3. Paradigma Kedekatan Profetis

Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا

“Aku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti ini.” (HR. Bukhari).

Beliau kemudian mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Karena itu, menyantuni anak yatim tidak boleh berhenti pada seremoni sesaat. Nilai-nilai wahyu harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang terorganisasi melalui beasiswa berkelanjutan, lembaga sosial yang profesional, serta sistem filantropi yang produktif agar masa depan mereka benar-benar terlindungi.

IV. Tinjauan Aksiologis: Nilai Guna dan Transformasi Sosial

1. Kesalehan Individual

Menyantuni anak yatim secara tulus dapat melunakkan hati dan menjadi penawar bagi kekeringan spiritual akibat ambisi duniawi yang berlebihan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jika kamu ingin melunakkan hatimu dan mendapatkan hajatmu, maka sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu.” (HR. Thabrani).

Ketika kita merendahkan ego untuk menyayangi mereka, Allah akan menurunkan ketenangan ke dalam hati kita.

2. Kesalehan Sosial

Ketika anak-anak yatim memperoleh pendidikan yang baik dan jaminan kesejahteraan, sesungguhnya kita sedang melakukan investasi peradaban jangka panjang.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka.” (QS. An-Nisa: 9).

Melalui gerakan ini, kita sedang memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi dan mencetak generasi yang tangguh, cerdas, serta siap memimpin masa depan.

Khotimah: Manifesto 1 Muharram di Sodong

Saudara-saudaraku yang saya hormati.

Tahun Baru Islam 1 Muharram merupakan titik awal bagi kita untuk berhijrah dari kesalehan yang pasif menuju kesalehan yang aktif dan transformatif. Jangan biarkan ada anak yatim di sekitar kampung Sodong yang menangis karena kelaparan, merasa rendah diri karena kesepian, atau terpaksa putus sekolah karena ketiadaan biaya, sementara kita merasa telah menjadi hamba yang saleh tanpa menghadirkan manfaat sosial.

Mari kita transformasikan ayat-ayat suci menjadi gerakan kultural yang membumi dan berdaya. Angkat harkat dan martabat anak-anak yatim kita. Bimbing spiritualitasnya agar kokoh, fasilitasi intelektualitasnya agar cerdas, dan jamin masa depannya agar cerah.

Menisbatkan diri sebagai Kafilul Yatim bukan sekadar janji di bibir, melainkan ikrar untuk melembagakan pelayanan, menegakkan keadilan, dan menebarkan kasih sayang di muka bumi. Itulah esensi spirit Hijrah dan wajah Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Semoga Allah SWT senantiasa meridai dan menguatkan langkah-langkah nyata kita.

Nashrun Minallahi wa Fathun Qarib, Wa Basysyiril Mu’minin.

Billahit taufiq wal hidayah, tsumma as-salam.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Continue Reading

Echo Chamber

Warisan Budaya Sukabumi Diterima Luas, Bukti Semangat Melestarikan Jati Diri Bangsa

Published

on

Ppasundanupdate.com|SUKABUMI, 15 Juni 2026 – Pagelaran seni budaya Kumara Lemah Karuhun yang digelar pada 14 Juni 2026 berlangsung dengan lancar dan sukses menyampaikan nilai-nilai kearifan lokal kepada masyarakat. Kesuksesan ini menjadi catatan positif sekaligus bukti nyata bahwa karya budaya daerah tetap mendapat tempat di hati publik.

Para Pemeran Drama Musikal Kumara Lemah Karuhun

Tim Manajemen Produksi, Rivaldi Indra Hapidzin, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian acara. Menurutnya, pertunjukan berjalan sesuai rencana berkat kerja sama yang solid antara tim produksi, seniman, komunitas kolaborator, relawan, dan seluruh pihak pendukung.

“Secara keseluruhan, acara berjalan lancar sesuai perencanaan. Kami menyadari masih ada beberapa catatan evaluasi, terutama terkait pengaturan arus penonton serta peningkatan fasilitas teknis untuk penyelenggaraan mendatang. Namun, yang terpenting, pesan budaya yang ingin disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh masyarakat yang hadir,” ujar Rivaldi.

Antusiasme penonton tercatat sangat tinggi hingga memenuhi kuota tempat pertunjukan. Respons positif yang diberikan sepanjang acara menjadi indikator kuat bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki kepedulian dan ketertarikan yang mendalam terhadap karya seni yang berakar pada jati diri bangsa.

“Kami melihat penonton terlibat secara emosional mengikuti setiap alur pertunjukan. Hal ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan karya budaya yang relevan, edukatif, sekaligus membangun ruang dialog yang erat dengan masyarakat,” tambahnya.

Rivaldi juga menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui LPDP yang telah mendukung penuh proses penciptaan karya hingga pelaksanaan pagelaran. Apresiasi yang sama disampaikan kepada seluruh komunitas kolaborator, mitra media, para pendukung kegiatan, serta masyarakat luas yang telah menjadi bagian dari kesuksesan acara ini.

#KumaraLemahKaruhun #WarisanBudayaSukabumi #BudayaSunda #PelestarianBudaya #SeniBudaya #Sukabumi #DanaIndonesiana #LPDP #KementerianKebudayaanRI #JatiDiriBangsa

Continue Reading

Echo Chamber

DUKUNGAN DANA INDONESIANA DAN LPDP SUKSESKAN PENCIPTAAN KARYA KREATIF INOVATIF “KUMARA LEMAH KARUHUN: THE LAST GUARDIAN”

Published

on

Pasundanupdate.com|SUKABUMI – Dukungan Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui LPDP menjadi faktor penting dalam suksesnya penyelenggaraan Penciptaan Karya Kreatif Inovatif “Kumara Lemah Karuhun: The Last Guardian” yang berlangsung di Gedung Juang 45 Kota Sukabumi. Karya ini menghadirkan pesan pelestarian budaya, kepedulian lingkungan, serta menempatkan generasi muda sebagai penjaga masa depan peradaban.

Pertunjukan ini mengangkat isu krisis lingkungan, hubungan manusia dengan alam, serta pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bekal bagi generasi masa depan. Melalui tokoh-tokoh anak dalam kelompok Kumara, karya ini menempatkan generasi muda sebagai penjaga terakhir nilai-nilai leluhur di tengah ancaman kerusakan bumi.

Pagelaran Drama Musikal “Kumara Lemah Karuhunn” The Last Guardian

Salah satu kekuatan utama pertunjukan ini adalah keterlibatan anak-anak sebagai pelaku utama karya. Berbagai unsur kaulinan barudak Sunda dihadirkan sebagai bagian penting dari alur cerita, koreografi, musik, dan visual pertunjukan. Permainan tradisional tidak hanya ditampilkan sebagai hiburan, tetapi juga dimaknai sebagai media pendidikan yang mengajarkan kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, strategi, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Sutradara sekaligus pengusul kegiatan, Indra Gandara, M.Pd., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui LPDP atas dukungan penuh yang diberikan sejak proses penciptaan hingga pementasan karya.

Sutradara : Indra Gandara

“Kumara Lemah Karuhun bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga upaya membangun kesadaran budaya dan lingkungan melalui perspektif anak-anak. Dukungan Dana Indonesiana dan LPDP memungkinkan kami mengembangkan gagasan ini menjadi sebuah karya yang melibatkan komunitas, seniman, serta generasi muda dalam proses kreatif yang panjang dan bermakna,” ungkapnya.

Menurut Indra Gandara, kehadiran anak-anak dalam karya ini menjadi simbol harapan sekaligus pengingat bahwa masa depan kebudayaan dan lingkungan berada di tangan generasi yang saat ini sedang tumbuh dan belajar.

Senada dengan hal tersebut, Rivaldi Indra Hapidzin, M.Pd., selaku Tim Manajemen Produksi, menyampaikan bahwa dukungan Dana Indonesiana dan LPDP memberikan ruang bagi tim untuk mengembangkan proses produksi secara lebih maksimal.

“Mulai dari riset, penciptaan karya, pelatihan peserta, hingga pelaksanaan pertunjukan, seluruh tahapan dapat berjalan dengan baik berkat dukungan yang diberikan. Yang paling membanggakan adalah bagaimana anak-anak tidak hanya menjadi penampil, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menyampaikan pesan budaya dan lingkungan kepada masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Viranie Dwi Monikawatie, M.Pd., selaku Tim Manajemen Produksi, menambahkan bahwa antusiasme penonton menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap karya yang mengangkat budaya lokal dengan pendekatan yang relevan bagi generasi saat ini.

“Melalui pertunjukan ini, kita melihat bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kaulinan barudak masih sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Respons positif penonton, baik dari akademisi, budayawan, maupun masyarakat umum, menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat dikemas secara kreatif dan tetap memiliki daya tarik yang kuat,” tuturnya.

Melalui terselenggaranya Kumara Lemah Karuhun: The Last Guardian, para pelaksana berharap semangat pelestarian budaya, kepedulian terhadap lingkungan, serta pemberdayaan generasi muda yang difasilitasi oleh Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui LPDP dapat terus tumbuh dan menginspirasi lahirnya karya-karya budaya yang inovatif di berbagai daerah di Indonesia.

#DanaIndonesiana #LPDP #KementerianKebudayaanRI #KumaraLemahKaruhun #TheLastGuardian #Sukabumi #BudayaSunda #KaulinanBarudak #PelestarianBudaya #GenerasiMuda #SeniPertunjukan #BudayaIndonesia #LingkunganHidup #KaryaKreatif #PasundanUpdate

Continue Reading

Favorit

Copyright © 2026 pasundanupdate.com.