Connect with us

Editorial

Wisata Edukasi Lebah Trigona di Karang Hawu Cisolok, Kolaborasi Desa Dongkrak Ekonomi Warga

Published

on

Oleh : Ruslan Efendy
Editor : Tim Redaksi Pasundanupdate.com
Foto :   Highlander

SUKABUMI – Inovasi pemberdayaan ekonomi berbasis wisata terus dikembangkan di pesisir selatan Kabupaten Sukabumi. Salah satunya melalui Wisata Edukasi Lebah Trigona yang berlokasi di kawasan Karang Hawu, Desa Cisolok, Kecamatan Cisolok, Palabuhanratu.

Program ini merupakan kolaborasi antara pengelola lokal bersama Pemerintah Desa Cisolok dengan tujuan meningkatkan ekonomi masyarakat melalui budidaya madu Trigona sekaligus menghadirkan destinasi wisata edukatif.

Pengelola sekaligus pemberdaya madu Trigona, Kang Nanan, menjelaskan bahwa lebah Trigona memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang besar.

Foto : Highlander — Kang Nanan, pembudidaya lebah trigona, saat memeriksa koloni lebah di lokasi budidayanya.

“Lebah Trigona ini lebah tanpa sengat, tapi manfaatnya besar sekali. Selain membantu penyerbukan tanaman, madunya juga punya nilai ekonomi tinggi,” ujarnya.

Wisata Berbasis Edukasi dan Konservasi

Wisata Edukasi Lebah Trigona menawarkan pengalaman belajar langsung kepada pengunjung tentang budidaya lebah tanpa sengat. Pengunjung dapat melihat proses pemeliharaan koloni, cara panen madu, hingga memahami pentingnya peran lebah dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Lebah Trigona dikenal sebagai spesies lebah kecil yang tidak memiliki sengat. Meski demikian, perannya sangat vital dalam proses penyerbukan tanaman.

“Kadang yang kecil dan terlihat sederhana justru punya peran besar. Trigona ini bekerja dari pagi sampai sore, menghasilkan madu sekaligus menjaga lingkungan,” kata Kang Nanan.

Konsep wisata ini mengedepankan edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Foto : Highlander — Bagian dalam sarang lebah trigona yang memperlihatkan struktur koloni dan kantong madu saat proses pemeriksaan budidaya.

Dorong Diversifikasi Wisata Cisolok

Selama ini kawasan Karang Hawu lebih dikenal sebagai destinasi wisata pantai. Kehadiran Wisata Edukasi Lebah Trigona diharapkan menjadi alternatif destinasi baru berbasis edukasi dan ekonomi kreatif.

Pemerintah Desa Cisolok mendukung penuh pengembangan wisata tersebut karena dinilai mampu membuka peluang usaha baru bagi warga, mulai dari penjualan madu, produk turunan, hingga jasa wisata edukasi.

Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, sektor UMKM lokal juga berpotensi ikut terdongkrak.

Fakta Singkat Lebah Trigona

  • Tidak memiliki sengat, sehingga relatif aman untuk dibudidayakan.
  • Berperan penting dalam penyerbukan tanaman dan menjaga keseimbangan ekosistem.
  • Menghasilkan madu Trigona dengan rasa khas cenderung asam-manis.
  • Madu Trigona dipercaya memiliki kandungan antioksidan dan antibakteri alami.
  • Cocok dikembangkan sebagai usaha skala rumah tangga berbasis desa.
  • Termasuk jenis lebah dari kelompok stingless bee yang banyak dibudidayakan di daerah tropis.

Peluang Ekonomi Berkelanjutan

Budidaya lebah Trigona dinilai memiliki prospek jangka panjang karena ramah lingkungan dan memiliki nilai jual tinggi. Selain itu, tren gaya hidup sehat mendorong meningkatnya permintaan madu alami di pasaran.

Dengan konsep wisata edukasi yang terintegrasi dengan pemberdayaan desa, Wisata Edukasi Lebah Trigona di Karang Hawu berpotensi menjadi model pengembangan ekonomi desa berbasis konservasi di Kabupaten Sukabumi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editorial

Bambu Hoki Sukabumi Tembus Pasar Internasional, UMKM Lokal Kian Mendunia

Published

on

Oleh : Ruslan Efendy
Editor : Tim Redaksi Pasundanupdate.com
Foto :   Arsip Pasundanupdate.com

Pasundanupdate.com, SUKABUMI, – Komoditas tanaman hias yang dikenal sebagai bambu hoki atau lucky bamboo dari Kabupaten Sukabumi semakin menunjukkan daya saingnya di pasar global. Melalui pengembangan berbasis UMKM, tanaman ini tidak hanya menjadi produk lokal, tetapi juga berhasil menembus pasar internasional.

Bambu hoki yang secara ilmiah dikenal sebagai Dracaena sanderiana menjadi salah satu unggulan hortikultura Sukabumi. Tanaman ini memiliki nilai ekonomis tinggi karena dapat diolah menjadi berbagai bentuk kriya dekoratif yang diminati konsumen mancanegara.

Pelaku usaha di Sukabumi mengembangkan bambu hoki tidak hanya dalam bentuk tanaman utuh, tetapi juga dalam berbagai model rangkaian seperti pagoda, guci, curly, heart, mahkota, hingga ananas. Inovasi tersebut menjadi daya tarik utama di pasar ekspor.

Foto: Highlander

Sejumlah UMKM di wilayah Sukabumi, termasuk kelompok tani di Selabintana dan Sukaraja yang berorientasi ekspor, telah berhasil memasarkan produk bambu hoki ke berbagai negara. Di antaranya Saudi Arabia, Iran, Qatar, Oman, Azerbaijan, Rusia, Malaysia, dan Singapura.

Bahkan, upaya ekspansi pasar terus dilakukan dengan membidik negara-negara baru seperti Belanda, Aljazair, dan Mesir.

Selain didukung oleh kreativitas pelaku usaha, produksi bambu hoki di Sukabumi juga menunjukkan tren positif. Pada tahun 2018, produksi tanaman ini tercatat mencapai lebih dari 6 juta batang, menjadikannya salah satu komoditas tanaman hias unggulan daerah.

Tanaman ini sebelumnya hanya dimanfaatkan sebagai tanaman pagar. Namun, seiring perkembangan pasar dan inovasi desain, bambu hoki kini menjadi produk bernilai tinggi dalam industri tanaman hias global.

Pengembangan bambu hoki di Sukabumi juga didukung oleh fasilitas dari pemerintah, seperti kawasan budidaya, rumah pengemasan (packing house), hingga sarana distribusi berpendingin untuk menjaga kualitas produk ekspor.

Saat ini, budidaya bambu hoki tersebar di sejumlah wilayah seperti Sukalarang, Sukaraja, Cidahu, Cicurug, hingga Kadudampit, yang menjadi sentra produksi tanaman hias di Kabupaten Sukabumi.

Bambu hoki sendiri dikenal luas sebagai tanaman pembawa keberuntungan, sehingga memiliki nilai simbolik yang kuat di pasar internasional. Hal ini turut mendorong tingginya permintaan, khususnya dari negara-negara Asia dan Timur Tengah.

Dengan dukungan inovasi, kualitas produk, serta jaringan pasar yang terus berkembang, UMKM bambu hoki Sukabumi dinilai memiliki peluang besar untuk terus memperluas jangkauan ekspor dan memperkuat posisi sebagai salah satu komoditas unggulan nasional.

Continue Reading

Editorial

Tanah Liat Cicantayan Dinilai Berkualitas Tinggi, Berpotensi Jadi Bahan Kriya Unggulan

Published

on

Oleh : Ruslan Efendy
Editor : Tim Redaksi Pasundanupdate.com
Foto :   Arsip Pasundanupdate.com

Pasundanupdate.com, SUKABUMI, – Tanah liat yang selama ini dimanfaatkan untuk produksi bata merah di Desa Cicantayan, Kecamatan Cantayan, Kabupaten Sukabumi, dinilai memiliki kualitas tinggi dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku kriya oleh kalangan perajin.

Selain dikenal mudah dibentuk, tanah liat dari wilayah ini memiliki tekstur halus dan daya rekat yang baik, sehingga memungkinkan proses pembentukan yang lebih presisi. Karakter tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam dunia kriya, khususnya untuk pembuatan keramik dan gerabah bernilai artistik.

Foto: Istimewa

Sejumlah perajin menyebutkan, kualitas tanah liat sangat menentukan hasil akhir sebuah karya. Tanah yang plastis dan stabil akan memudahkan proses pembentukan serta mengurangi risiko retak saat pengeringan maupun pembakaran.

“Kalau tanahnya bagus, hasilnya juga lebih halus dan kuat. Ini sebenarnya cocok untuk kerajinan, bukan hanya bata,” ujar salah satu pengrajin dari Jakarta

Selama ini, pemanfaatan tanah liat di wilayah tersebut masih didominasi untuk kebutuhan konstruksi. Padahal, dari sudut pandang seni dan kriya, bahan yang sama memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi.

Dalam praktiknya, tanah liat berkualitas seperti yang terdapat di Cicantayan dapat diolah menjadi berbagai produk, antara lain:

  • gerabah artistik
  • keramik hias
  • vas dan pot dekoratif
  • peralatan rumah tangga berbasis kriya

Dengan sentuhan desain dan teknik pengolahan yang tepat, produk-produk tersebut tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga nilai estetika yang diminati pasar.

Pengembangan kriya berbasis tanah liat ini dinilai dapat menjadi peluang baru bagi pelaku UMKM di desa, sekaligus membuka akses ke sektor ekonomi kreatif. Terlebih, tren produk handmade dan berbasis material alami saat ini terus meningkat.

Namun demikian, pengembangan potensi tersebut masih memerlukan dukungan, terutama dalam hal pelatihan keterampilan, penguatan desain, serta akses pasar yang lebih luas.

Dengan kualitas bahan yang dinilai baik oleh para perajin, tanah liat Cicantayan memiliki peluang untuk berkembang tidak hanya sebagai bahan bangunan, tetapi juga sebagai medium karya seni yang bernilai tinggi dan berdaya saing.

Continue Reading

Editorial

Bata Merah Cantayan Tetap Bertahan, UMKM Tradisional yang Menopang Ekonomi Warga

Published

on

Oleh : Ruslan Efendy
Editor : Tim Redaksi Pasundanupdate.com
Foto :   Istimewa

Pasundanupdate.com, SUKABUMI – Aktivitas produksi bata merah di Kecamatan Cantayan, Kabupaten Sukabumi, masih terus berlangsung dan menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat desa. Di sejumlah titik, khususnya di Desa Cicantayan dan sekitarnya, usaha ini dijalankan secara turun-temurun oleh warga.

Sejak pagi hari, para pengrajin mulai mengolah tanah liat yang diambil dari lahan sekitar. Tanah tersebut kemudian dicetak menggunakan alat sederhana, lalu dijemur di bawah sinar matahari sebelum masuk ke tahap pembakaran.

Proses produksi masih dilakukan secara tradisional. Dalam kondisi cuaca normal, satu pengrajin mampu mencetak ratusan hingga sekitar seribu bata mentah per hari. Setelah dikeringkan, bata kemudian dibakar selama dua hingga tiga hari hingga siap dipasarkan.

Foto: Istimewa

“Kalau cuaca panas, produksi bisa lancar. Sehari bisa sampai seribu bata, tapi kalau hujan biasanya berkurang,” ujar Asep (45), salah satu pengrajin bata merah di Cantayan.

Menurutnya, usaha bata merah telah menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga di wilayah tersebut. Selain dikelola secara mandiri, kegiatan ini juga melibatkan warga sekitar sebagai tenaga kerja, mulai dari proses pencetakan hingga penyusunan bata untuk pembakaran.

“Biasanya satu tempat kerja ada beberapa orang. Ada yang bagian cetak, angkut, sampai bakar,” katanya.

Hasil produksi bata merah dari Cantayan umumnya dipasarkan ke berbagai wilayah di Sukabumi dan sekitarnya. Bata merah masih menjadi pilihan untuk kebutuhan bangunan tertentu karena dinilai memiliki kekuatan dan daya tahan yang baik.

Meski demikian, para pengrajin mengakui adanya tantangan dalam menjalankan usaha ini. Selain faktor cuaca, persaingan dengan material bangunan modern turut memengaruhi permintaan pasar.

“Sekarang memang banyak bahan lain, tapi bata merah masih tetap ada yang cari,” kata Asep.

Di sisi lain, proses produksi yang masih mengandalkan metode tradisional membuat para pengrajin harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, termasuk dalam hal efisiensi waktu dan tenaga.

Namun demikian, usaha bata merah di Cantayan tetap bertahan sebagai bagian dari aktivitas ekonomi lokal. Bagi masyarakat setempat, pekerjaan ini bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari keseharian yang telah dijalani selama bertahun-tahun.

“Selama masih bisa kerja, kami akan terus produksi,” ujarnya.

Di tengah perkembangan zaman, UMKM bata merah di Cantayan menjadi gambaran nyata bagaimana usaha tradisional tetap hidup dan berkontribusi bagi ekonomi desa.

#Pasundanupdate

Continue Reading

Favorit

Copyright © 2026 pasundanupdate.com.