Connect with us

Potensi Desa

Kelapa Jadi Sumber Harapan, Warga Desa Sirnamekar Kembangkan Usaha Minyak Kelapa Bernilai Ekonomis

Published

on

SUKABUMI – Di tengah hamparan perkebunan kelapa yang membentang di Desa Sirnamekar, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, masyarakat terus mengembangkan potensi lokal melalui usaha pengolahan kelapa menjadi minyak kelapa tradisional. Usaha rumahan ini menjadi salah satu sumber penghasilan yang menjanjikan bagi warga sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi desa.

Setiap hari, ratusan hingga ribuan butir kelapa dikumpulkan dari kebun milik warga maupun hasil panen petani sekitar. Kelapa-kelapa tersebut kemudian diproses menjadi minyak kelapa dengan cara tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Harga jual kelapa yang mencapai Rp2.500 per butir memberikan nilai ekonomi yang cukup baik bagi para petani. Selain dijual dalam bentuk buah, sebagian hasil panen diolah menjadi minyak kelapa sehingga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi sebelum dipasarkan.

Proses pembuatan minyak kelapa dimulai dari pengupasan sabut, pemecahan tempurung, pengambilan daging kelapa, pemarutan, hingga pemerasan santan. Santan kemudian dimasak selama beberapa jam hingga menghasilkan minyak kelapa murni yang dikenal memiliki kualitas baik serta banyak dimanfaatkan sebagai minyak goreng maupun bahan baku berbagai produk olahan.

Menurut warga, usaha ini mampu menjadi penopang ekonomi keluarga, terutama saat musim panen kelapa tiba. Permintaan minyak kelapa dari pasar lokal hingga luar daerah juga terus meningkat seiring tingginya minat masyarakat terhadap produk alami.

Selain memberikan manfaat ekonomi, industri rumahan ini juga menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar. Mulai dari proses pengumpulan kelapa, pengangkutan, pengupasan, hingga pengolahan minyak, semuanya melibatkan masyarakat desa sehingga menciptakan perputaran ekonomi yang positif.

Desa Sirnamekar sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki potensi perkebunan kelapa cukup besar di kawasan selatan Kabupaten Sukabumi. Potensi tersebut dinilai masih dapat dikembangkan melalui peningkatan teknologi pengolahan, pengemasan produk, hingga pemasaran digital agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Dengan dukungan pemerintah dan berbagai pihak, usaha pengolahan minyak kelapa di Desa Sirnamekar diharapkan mampu berkembang menjadi produk unggulan desa. Tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas daerah sebagai sentra penghasil kelapa berkualitas di Sukabumi Selatan.

Melimpahnya hasil perkebunan yang dipadukan dengan semangat gotong royong masyarakat menjadi modal penting bagi Desa Sirnamekar untuk terus mengembangkan ekonomi berbasis potensi lokal secara berkelanjutan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Echo Chamber

Curug Cipatala, Surga Alam Tersembunyi di Jampang Tengah yang Menyimpan Pesona dan Jejak Sejarah

Published

on

SUKABUMI – Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, Kabupaten Sukabumi kembali menyimpan sebuah permata wisata alam yang belum banyak diketahui masyarakat. Terletak di Desa Cijulang, Kecamatan Jampang Tengah, Curug Cipatala hadir sebagai destinasi wisata tersembunyi dengan panorama yang masih sangat alami, asri, dan autentik.

Curug Cipatala menawarkan suasana yang sejuk dan menenangkan. Aliran air yang jatuh dari tebing batu menciptakan percikan-percikan lembut yang terbawa embusan angin. Sensasi tersebut menghadirkan pemandangan yang menyerupai hujan salju tipis, memberikan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjung yang datang menikmati keindahan alamnya.

Dikelilingi pepohonan hijau yang masih terjaga, kawasan ini menjadi tempat yang cocok untuk melepas penat, menikmati udara segar, berburu fotografi alam, maupun sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat. Keaslian lingkungan yang belum banyak tersentuh pembangunan menjadi daya tarik utama Curug Cipatala.

Lokasinya berada di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, sekitar 30 kilometer dari pusat Kecamatan Jampang Tengah atau dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit menggunakan kendaraan bermotor. Akses menuju lokasi juga relatif mudah karena berada tidak jauh dari ruas Jalan Kabupaten Bojong Lopang–Cimerang.

Menariknya, perjalanan menuju Curug Cipatala tidak hanya menyuguhkan panorama alam. Pengunjung juga akan melewati sejumlah bangunan tua peninggalan masa kolonial Belanda yang dahulu menjadi bagian dari kawasan perkebunan. Keberadaan bangunan bersejarah tersebut memberikan nilai tambah tersendiri, menghadirkan perpaduan antara wisata alam dan wisata sejarah dalam satu perjalanan.

Dengan potensi alam yang dimiliki, Curug Cipatala dinilai layak untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di wilayah Jampang Tengah. Namun, hingga saat ini kawasan tersebut masih memerlukan perhatian dan penataan yang lebih serius, baik dari sisi aksesibilitas, fasilitas pendukung, kebersihan, maupun promosi wisata.

Apabila dikelola secara berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, Curug Cipatala berpeluang menjadi ikon wisata alam baru di Kabupaten Sukabumi. Keindahan air terjun yang masih alami dipadukan dengan jejak sejarah kolonial menjadikan destinasi ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan objek wisata lainnya di Sukabumi.

Bagi para pencinta wisata alam, Curug Cipatala adalah destinasi yang patut masuk dalam daftar kunjungan berikutnya. Keheningan alam, kesejukan udara pegunungan, serta panorama yang masih alami menjadi alasan kuat untuk datang dan menikmati pesonanya secara langsung.

Continue Reading

Pemerintahan

Bukan Sekadar Akses Warga, Jembatan Prima Jantake Kini Hadirkan Keceriaan Anak-anak di Sungai Cimandiri

Published

on

PASUNDANUPDATE.COM, SUKABUMI – Gelak tawa anak-anak memecah suasana di bawah Jembatan Gantung Prima Jantake, Desa Sasagara, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (4/7/2026).

Mereka berenang dan bermain air di aliran Sungai Cimandiri tepat di bawah jembatan bersejarah yang baru saja diresmikan.

Pemandangan tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Di atas jembatan, warga bergantian berswafoto dan menikmati panorama Sungai Cimandiri. Sementara di bawah, anak-anak memanfaatkan air sungai yang jernih untuk berenang bersama teman-temannya.

Jembatan Gantung Prima Jantake diresmikan Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo bersama Bupati Sukabumi Aep Japar bertepatan dengan momentum Hari Bhayangkara ke-80.

Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sentot Kunto Wibowo mengatakan tingginya antusiasme masyarakat terlihat sejak jembatan selesai dibangun. Banyak warga yang datang mengunjungi lokasi, terutama pada pagi dan sore hari selama masa libur sekolah.

“Alhamdulillah hari ini kita dapat meresmikan Jembatan Gantung Prima Jantake. Semoga jembatan ini memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama anak-anak yang berangkat sekolah, petani yang mengangkut hasil pertanian, hingga masyarakat yang membutuhkan akses cepat menuju rumah sakit dalam kondisi darurat,” kata Sentot.

Ia menambahkan, keberadaan jembatan tersebut tidak hanya menjadi sarana penghubung masyarakat, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata baru.

“Kawasan di sekitar Sungai Cimandiri sangat potensial dikembangkan menjadi lokasi arung jeram hingga spot swafoto yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Anak-anak Tengah Berenang di Bawah Jembatan Jantake Sungai Cimandiri

Sementara itu, Bupati Sukabumi Aep Japar mengapresiasi Polres Sukabumi Kota yang telah membangun kembali Jembatan Prima Jantake melalui program Hari Bhayangkara ke-80.

Menurut Aep, jembatan yang dibangun sejak tahun 1922 pada masa kolonial Belanda itu memiliki peran strategis karena menghubungkan Desa Sasagara dan Desa Bojonglongok, sekaligus menjadi akses penting bagi masyarakat di Kecamatan Kebonpedes, Nyalindung, dan Gegerbitung.

“Jembatan ini sangat luar biasa manfaatnya. Selain memperlancar distribusi hasil pertanian, juga memudahkan anak-anak menuju sekolah dan mempercepat masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan,” kata Aep.

Ia menjelaskan, selama bertahun-tahun jembatan tersebut hanya mendapat perbaikan sementara.

“Alhamdulillah melalui program Hari Bhayangkara ke-80 Polres Sukabumi Kota, jembatan ini akhirnya dibangun kembali secara permanen sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang,” ucapnya.

Kini, selain kembali menjadi jalur vital bagi aktivitas masyarakat, Jembatan Gantung Prima Jantake juga menghadirkan wajah baru kawasan Sungai Cimandiri.

Keceriaan anak-anak yang berenang di bawah jembatan dan ramainya warga menikmati pemandangan menjadi gambaran bahwa lokasi tersebut mulai tumbuh menjadi destinasi wisata keluarga di Kabupaten Sukabumi.

Continue Reading

Echo Chamber

REVOLUSI TEOLOGI KEPEDULIAN: Membedah Hakikat Perlindungan Anak Yatim Secara Filosofis dan Teologis

Published

on

Materi Pengajian Agung, 1 Muharram – Sodong

Oleh: Solahudin Al-Ayubi

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’inu ‘ala umurid-dunya wad-din. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, Sayyidina wa Maulana Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Bapak, Ibu, para tokoh masyarakat, alim ulama, segenap pemuda, serta seluruh jemaah pengajian kultural di tanah Sodong yang senantiasa dinaungi rahmat dan hidayah Allah SWT.

Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram bukan sekadar pergantian angka pada kalender atau selebrasi seremonial tahunan yang berlalu begitu saja tanpa bekas. Sebagai elemen bangsa yang sadar akan tanggung jawab sejarah dan sebagai pemuda negarawan, kita harus memandang Hijrah sebagai momentum transformasi kesadaran dan revolusi sosial. Hari ini, di tengah suasana spiritual yang hangat di Sodong, kita berkumpul untuk merefleksikan kembali salah satu mandat langit yang paling mendasar, yaitu komitmen profetis, etis, serta kepedulian nyata terhadap anak yatim.

Mari kita bedah mandat ilahi ini tidak hanya dengan pendekatan doktriner-tekstual yang kaku, melainkan melalui cakrawala falsafah yang mencerahkan, tajam, dan berkemajuan. Mulai dari ragam definisi, tinjauan ontologis, epistemologis, hingga manifesto aksiologisnya di tengah realitas kemasyarakatan.

I. Definisi dan Perluasan Makna: Siapakah Anak Yatim dalam Pandangan Islam?

Secara etimologi (lughatan), kata yatim (يتيم) berasal dari akar kata bahasa Arab yatama-yatimu yang berarti al-infiraad, yaitu sendiri, terasing, atau sebatang kara.

Sedangkan secara terminologi syariat (istilahan), anak yatim didefinisikan sebagai:

“Seorang anak yang ditinggal wafat oleh ayahnya sebelum mencapai usia baligh atau dewasa.”

Batas berakhirnya status keyatiman ini secara hukum fikih ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ

“Tidak ada keyatiman lagi setelah mimpi basah (baligh).” (HR. Abu Dawud).

Perluasan Makna Kontemporer: Sosiologis dan Struktural

Dalam konteks dakwah kultural dan gerakan sosial yang relevan dengan tantangan zaman, definisi ini mengalami perluasan makna secara sosiologis. Memahami makna “yatim” tidak boleh berhenti pada batas biologis semata. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk melihat anak yatim sebagai representasi kelompok masyarakat yang dilemahkan secara struktural (mustad’afin) yang wajib dibela, dilindungi, dan diselamatkan oleh sistem kemasyarakatan kita.

Jika seorang anak masih memiliki orang tua, namun hak-hak dasarnya untuk hidup layak, mendapatkan kasih sayang, serta memperoleh pendidikan yang mencerahkan terenggut oleh kemiskinan dan ketidakadilan ekonomi, maka secara substantif mereka wajib diadvokasi dan disantuni sebagaimana kita memperlakukan anak yatim.

Paradigma kepedulian ini harus diletakkan pada tiga pilar pemenuhan hak anak:

  • Hak Perlindungan Eksistensial, yaitu menjaga fisik, mental, dan ruang tumbuh mereka dari segala bentuk eksploitasi, kekerasan, maupun penelantaran emosional.
  • Hak Kecukupan Materi, yakni memastikan hak-hak ekonomi mereka terjamin melalui pengelolaan yang amanah, transparan, dan akuntabel.
  • Hak Pendidikan yang Mencerahkan, sebab santunan terbaik bagi anak yatim bukan sekadar bantuan konsumtif sesaat, melainkan jaminan akses pendidikan yang bermutu hingga mereka mandiri secara intelektual dan finansial.

II. Tinjauan Ontologis: Hakikat Keberadaan Anak Yatim dalam Kosmologi Iman

Secara ontologis, yakni cabang filsafat yang membahas hakikat keberadaan, muncul pertanyaan mendasar: mengapa Allah SWT menciptakan realitas kehidupan yang membuat sebagian anak kehilangan pelindung utamanya di usia dini?

Mengapa terdapat ketimpangan sosial, di mana sebagian anak tumbuh dengan fasilitas lengkap sementara sebagian lainnya harus berjuang sebatang kara? Apakah ini bentuk ketidakadilan kosmis?

Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Secara ontologis, keberadaan anak yatim di muka bumi merupakan instrumen ujian bagi manusia lain yang dianugerahi kelapangan hidup. Mereka dihadirkan bukan sebagai beban sosial, melainkan sebagai cermin spiritual untuk menguji apakah klaim keislaman kita bersifat substantif atau sekadar berhenti pada lisan.

Mari kita tadabburi firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma’un ayat 1–3:

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3).

Ayat ini membongkar hakikat iman yang sejati. Allah tidak terlebih dahulu mengaitkan pendustaan agama dengan orang yang meninggalkan salat, melainkan dengan mereka yang abai terhadap penderitaan sosial anak yatim.

Lebih lanjut, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fajr ayat 17–18:

كَلَّا ۖ بَل لَّا تُكْرِمُونَ ٱلْيَتِيمَ ۝ وَلَا تَحَٰضُّونَ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

“Sekali-kali tidak demikian. Sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim dan tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Fajr: 17–18).

Secara ontologis, memuliakan anak yatim merupakan fondasi kemuliaan sebuah peradaban, sedangkan menghardik mereka adalah awal dari keruntuhan moral suatu bangsa.

III. Tinjauan Epistemologis: Sumber Hukum dan Paradigma Gerakan

Secara epistemologis, yakni bagaimana ilmu dan dasar hukum dirumuskan, landasan pengasuhan dan perlindungan anak yatim bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, rasionalitas ilmu pengetahuan, serta kepekaan nurani kemanusiaan.

Perhatikan firman-firman Allah berikut.

1. Perintah Berbuat Baik dan Bersikap Adil

Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT menjajarkan perintah menyembah-Nya dengan kewajiban berbuat baik kepada anak yatim:

ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ

“Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.” (QS. An-Nisa: 36).

2. Larangan Memakan Harta Anak Yatim secara Zalim

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 10:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, pada hakikatnya mereka menelan api ke dalam perutnya dan kelak akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.” (QS. An-Nisa: 10).

Demikian pula dalam Surah Al-An’am ayat 152:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥ

“Janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik, hingga ia mencapai usia dewasa.” (QS. Al-An’am: 152).

3. Paradigma Kedekatan Profetis

Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا

“Aku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti ini.” (HR. Bukhari).

Beliau kemudian mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Karena itu, menyantuni anak yatim tidak boleh berhenti pada seremoni sesaat. Nilai-nilai wahyu harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata yang terorganisasi melalui beasiswa berkelanjutan, lembaga sosial yang profesional, serta sistem filantropi yang produktif agar masa depan mereka benar-benar terlindungi.

IV. Tinjauan Aksiologis: Nilai Guna dan Transformasi Sosial

1. Kesalehan Individual

Menyantuni anak yatim secara tulus dapat melunakkan hati dan menjadi penawar bagi kekeringan spiritual akibat ambisi duniawi yang berlebihan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jika kamu ingin melunakkan hatimu dan mendapatkan hajatmu, maka sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu.” (HR. Thabrani).

Ketika kita merendahkan ego untuk menyayangi mereka, Allah akan menurunkan ketenangan ke dalam hati kita.

2. Kesalehan Sosial

Ketika anak-anak yatim memperoleh pendidikan yang baik dan jaminan kesejahteraan, sesungguhnya kita sedang melakukan investasi peradaban jangka panjang.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka.” (QS. An-Nisa: 9).

Melalui gerakan ini, kita sedang memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi dan mencetak generasi yang tangguh, cerdas, serta siap memimpin masa depan.

Khotimah: Manifesto 1 Muharram di Sodong

Saudara-saudaraku yang saya hormati.

Tahun Baru Islam 1 Muharram merupakan titik awal bagi kita untuk berhijrah dari kesalehan yang pasif menuju kesalehan yang aktif dan transformatif. Jangan biarkan ada anak yatim di sekitar kampung Sodong yang menangis karena kelaparan, merasa rendah diri karena kesepian, atau terpaksa putus sekolah karena ketiadaan biaya, sementara kita merasa telah menjadi hamba yang saleh tanpa menghadirkan manfaat sosial.

Mari kita transformasikan ayat-ayat suci menjadi gerakan kultural yang membumi dan berdaya. Angkat harkat dan martabat anak-anak yatim kita. Bimbing spiritualitasnya agar kokoh, fasilitasi intelektualitasnya agar cerdas, dan jamin masa depannya agar cerah.

Menisbatkan diri sebagai Kafilul Yatim bukan sekadar janji di bibir, melainkan ikrar untuk melembagakan pelayanan, menegakkan keadilan, dan menebarkan kasih sayang di muka bumi. Itulah esensi spirit Hijrah dan wajah Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Semoga Allah SWT senantiasa meridai dan menguatkan langkah-langkah nyata kita.

Nashrun Minallahi wa Fathun Qarib, Wa Basysyiril Mu’minin.

Billahit taufiq wal hidayah, tsumma as-salam.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Continue Reading

Favorit

Copyright © 2026 pasundanupdate.com.