Connect with us

Editorial

Ekonomi Tumbuh dari Kebun Kapol, Petani di Desa Sirnamekar Tegalbuleud Rasakan Dampaknya

Published

on

Pasundanupdate.com – 18 Mei 2026, Tanaman kapol atau kapulaga kini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di Desa Sirnamekar, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Komoditas rempah bernilai jual tinggi tersebut perlahan mengubah kondisi ekonomi warga melalui hasil kebun yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Di wilayah selatan Sukabumi, kapol menjadi tanaman andalan masyarakat karena dinilai cocok dengan kondisi tanah dan iklim pegunungan. Selain mudah dirawat, hasil panennya juga memiliki permintaan pasar yang cukup stabil.

Mang Kodir (46), petani kapol asal Desa Sirnamekar, mengatakan bahwa kebun kapol telah menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga di desanya. Menurutnya, sebagian warga kini mulai serius mengembangkan tanaman rempah tersebut karena mampu membantu kebutuhan ekonomi sehari-hari.

“Kapol ayeuna jadi harapan warga. Hasilna tiasa kanggo biaya sakola budak, kebutuhan sapopoe, sareng ngabantu ekonomi keluarga,” ujar Mang Kodir saat ditemui di area perkebunan kapol miliknya.

Ia menjelaskan, tanaman kapol tidak membutuhkan perawatan yang terlalu sulit. Petani hanya menjaga kelembapan lahan serta membersihkan rumput liar di sekitar tanaman agar pertumbuhannya tetap optimal. Masa panen yang dapat berlangsung berkala membuat petani tetap memiliki pemasukan dalam jangka panjang.

Kapulaga sendiri diketahui menjadi salah satu komoditas rempah unggulan di wilayah Pajampangan Sukabumi. Dalam beberapa tahun terakhir, harga jual kapol sempat mengalami peningkatan sehingga memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani di pedesaan.

Masyarakat berharap adanya dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian rempah, mulai dari akses pemasaran, pendampingan petani, hingga pengembangan potensi desa berbasis pertanian. Dengan potensi alam yang mendukung, kebun kapol diyakini dapat menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat Desa Sirnamekar dan wilayah selatan Sukabumi.

#KapolSukabumi #DesaSirnamekar #Tegalbuleud #PetaniKapol

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Echo Chamber

KUMARA LEMAH KARUHUN: Menjawab Seruan Gubernur Jabar, Seni Pertunjukan Jadi Sekolah Karakter dan Kecerdasan Majemuk Generasi Muda

Published

on

Sukabumi, 21 Mei 2026 – Dalam arus deras transformasi digital yang perlahan menggeser ruang interaksi nyata anak-anak, muncul kegelisahan besar dari berbagai kalangan. Generasi masa kini semakin kehilangan tontonan yang sejatinya menjadi tuntunan. Di saat yang bersamaan, wacana kuat yang digaungkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai urgensi memasukkan teater ke dalam sistem pendidikan sekolah sebagai pilar utama penguatan karakter, kini menemukan jawaban nyata dan bukti konkret.

Pasukan kumara melakukan formasi orai-orain saat latihan gabungan

Jawaban itu hadir megah dalam wujud KUMARA Lemah Karuhun: The Last Guardian, sebuah drama musikal budaya kolosal yang tidak hanya hadir untuk menghibur, melainkan juga telah teruji melalui kajian akademik sebagai media pembentukan karakter sekaligus peningkatan kecerdasan majemuk anak bangsa.

Penggagas sekaligus sutradara KUMARA, Indra Gandara, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa gagasan menjadikan seni pertunjukan sebagai media strategis pendidikan karakter sejatinya bukanlah hal baru baginya. Sejak tahun 2018, jauh sebelum wacana ini menjadi pembahasan publik secara luas, Indra telah konsisten menjalankan proses kreatif mendalam bersama anak-anak dan berbagai komunitas seni, membuktikan bahwa panggung adalah ruang hidup paling efektif untuk menumbuhkan kualitas manusia seutuhnya.

Kini, melalui KUMARA, visi besar tersebut direalisasikan dalam skala yang jauh lebih luas, lebih terstruktur, dan lebih berdampak bagi masyarakat Jawa Barat bahkan Indonesia.

“Keresahan kita sama, anak-anak hari ini banyak terpapar konten yang tidak menyentuh rasa, tidak membangun empati, dan melemahkan hubungan sosial. Di sisi lain, Bapak Gubernur Dedi Mulyadi telah mengingatkan kita semua bahwa teater dan seni pertunjukan harus masuk ke sekolah karena di situlah akar karakter dibentuk. Kami di KUMARA menyambut gagasan mulia ini bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan karya dan bukti nyata yang telah kami kaji secara ilmiah bertahun-tahun,” ungkap Indra Gandara di sela-sela latihan gabungan besar yang melibatkan tujuh komunitas seni dan lebih dari 120 pemain di Mardiyuana Cikembar, Kamis.

Yang menjadikan gerakan KUMARA istimewa dan berbeda dari pertunjukan seni biasa adalah landasan ilmiah yang kokoh. Indra Gandara menambahkan, seluruh konsep yang dibangun dalam KUMARA, khususnya yang berbasis pada kaulinan barudak Sunda atau permainan tradisional, telah melalui serangkaian riset mendalam dan kajian akademik dengan hasil yang luar biasa.

Data dan pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa seni pertunjukan yang dikemas melalui pendekatan permainan rakyat tidak hanya berfungsi melestarikan budaya, melainkan juga memiliki dampak signifikan dalam menguatkan fondasi karakter anak sekaligus meningkatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) secara menyeluruh.

“Kajian kami membuktikan, saat anak-anak terlibat dalam proses ini, mereka tidak hanya belajar berakting atau bergerak. Melalui kaulinan barudak yang kami hidupkan kembali dengan nilai baru, kecerdasan linguistik, logika-matematis, spasial, kinestetik, musikal, antarpribadi, intrapribadi, hingga kecerdasan naturalis berkembang secara bersamaan, alami, dan menyenangkan. Ini adalah metode pendidikan paling lengkap yang dimiliki leluhur kita, dan kami buktikan secara akademik bahwa metode ini jauh lebih efektif membentuk manusia cerdas dan berkarakter dibandingkan sekadar pembelajaran satu arah,” jelas Indra sebagai akademisi.

Pemeran Wira dan Nini Hejo

Dalam KUMARA Lemah Karuhun, pendekatan ini diterapkan secara utuh. Pertunjukan tersebut memadukan seni peran, musik etnik, tarian, seni bela diri pencak silat, tata artistik, serta nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal dalam satu kesatuan narasi yang kuat.

Di sini, anak-anak tidak diposisikan sekadar sebagai penampil latar, melainkan sebagai subjek utama yang memaknai setiap gerakan dan cerita. Nilai kebersamaan, kejujuran, keberanian, sportivitas saat kalah, rasa syukur saat menang, hingga rasa hormat kepada alam dan leluhur ditanamkan melalui pengalaman hidup di atas panggung.

Konsep ini sangat sejalan dengan visi Gubernur Jawa Barat yang berulang kali menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak anak yang pintar secara akademik, tetapi kosong secara budaya dan karakter.

“Teater adalah laboratorium kehidupan terbaik karena di sana anak belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain, belajar memimpin, belajar bekerja sama, dan belajar menjadi manusia yang beradab,” ujarnya.

Lebih jauh, Indra Gandara menegaskan bahwa KUMARA hadir bukan sekadar sebagai tontonan seni, melainkan sebuah gerakan kebudayaan besar. Gerakan ini berupaya mengembalikan panggung pertunjukan pada fungsi aslinya, yakni sebagai ruang tumbuh kembang imajinasi, ruang pendidikan nilai, dan ruang pembentuk kesadaran kolektif bagi generasi masa depan.

Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana — kini Dana Indonesia Raya — serta pengelolaan pendanaan oleh LPDP semakin mengukuhkan bahwa negara menaruh harapan besar pada pendekatan ini sebagai model pemajuan kebudayaan berbasis pendidikan karakter.

“Pesan leluhur kami sampaikan kembali: ‘Lain kudu balik ka baheula, tapi geus wayah malikkeun pikir.’ Kita tidak perlu kembali hidup di masa lalu, tetapi kita harus mengembalikan cara berpikir bahwa kemajuan dan teknologi tidak boleh membuat kita kehilangan jati diri. Seni pertunjukan berbasis budaya adalah jembatan emasnya,” tambah Indra.

Melihat antusiasme peserta latihan yang datang dari berbagai usia dan latar belakang, serta dukungan luas dari masyarakat dan sekolah, KUMARA Lemah Karuhun yang akan digelar pada 14 Juni 2026 mendatang di Gedung Juang Kota Sukabumi, pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB, diprediksi akan menjadi tonggak sejarah baru.

Pertunjukan ini menjadi bukti bahwa seruan pemimpin untuk menjadikan seni sebagai tulang punggung pendidikan karakter telah dijawab dengan karya agung yang siap melahirkan generasi cerdas, berbudi luhur, dan mencintai akar budayanya sendiri.

Bagi Indra Gandara dan timnya, ini baru permulaan.

“Setelah Sukabumi, model ini harus menyebar ke seluruh Jawa Barat dan Indonesia agar setiap anak bangsa mendapatkan haknya untuk tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya pintar otaknya, tetapi juga kaya hatinya dan kuat karakternya,” pungkasnya.

Continue Reading

Editorial

Curug Sodong, Permata Air Terjun Kembar di Jantung Geopark Ciletuh

Published

on

Pasundanupdate.com — Di balik bentang alam megah kawasan Geopark Ciletuh, tersembunyi sebuah air terjun yang selalu berhasil membuat siapa pun terdiam beberapa saat saat pertama kali melihatnya. Namanya Curug Sodong, air terjun kembar yang berada di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Dikelilingi rimbunnya pepohonan tropis dan tebing batu purba khas kawasan Ciletuh, Curug Sodong menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan hanya lewat foto. Gemuruh air yang jatuh dari ketinggian berpadu dengan udara lembab pegunungan menciptakan pengalaman yang menenangkan sekaligus memukau.

Curug ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata alam di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark. Salah satu daya tarik utamanya adalah dua aliran air yang berdampingan, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai “Curug Kembar” atau “Air Terjun Panganten”.

Foto: Rista-Curug Sodong Ciletuh.

Nama “Sodong” sendiri berasal dari bahasa Sunda yang merujuk pada cekungan mirip goa di balik air terjun. Dari sudut tertentu, pengunjung dapat melihat rongga alami di balik derasnya aliran air, menciptakan panorama yang terasa seperti lukisan alam hidup.

Menariknya lagi, Curug Sodong menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan karena akses menuju lokasi relatif mudah dibanding beberapa curug lain di kawasan Ciletuh. Kendaraan roda dua maupun roda empat bisa mencapai area wisata dengan cukup nyaman.

Selain menikmati air terjun, wisatawan juga bisa merasakan atmosfer khas geopark dunia. Kawasan Ciletuh sendiri dikenal memiliki bentang alam purba dengan nilai geologi tinggi yang telah diakui UNESCO. Tebing batu, sungai, perbukitan hijau hingga garis pantai selatan menjadi satu kesatuan ekosistem yang membuat wilayah ini berbeda dari destinasi wisata biasa.

Bagi pecinta fotografi, Curug Sodong menawarkan banyak sudut menarik. Pepohonan besar di sekitar air terjun membentuk frame alami, sementara kabut tipis dari hempasan air sering menciptakan nuansa dramatis terutama pada pagi dan sore hari.

Tak sedikit wisatawan menyebut Curug Sodong sebagai tempat untuk “recharge” dari hiruk pikuk kota. Duduk di bebatuan sambil mendengar suara air jatuh menjadi pengalaman sederhana yang justru paling dicari.

Namun di balik keindahannya, kawasan ini juga mengingatkan pentingnya menjaga alam. Beberapa waktu lalu kondisi air Curug Sodong sempat menjadi perhatian karena berubah keruh akibat faktor lingkungan di aliran sungai hulunya. Hal itu menjadi pengingat bahwa kelestarian kawasan geopark harus dijaga bersama.

Kini Curug Sodong tetap menjadi salah satu wajah paling memikat dari Sukabumi Selatan tempat di mana alam, sejarah geologi, dan ketenangan bertemu dalam satu lanskap yang sulit dilupakan.

Fakta Menarik Curug Sodong

  • Berada di kawasan UNESCO Global Geopark Ciletuh
  • Dijuluki Curug Kembar atau Air Terjun Panganten
  • Memiliki dua aliran air utama setinggi sekitar 20 meter
  • Nama “Sodong” berasal dari cekungan mirip goa di balik air terjun
  • Menjadi salah satu curug dengan akses termudah di kawasan Ciletuh
  • Cocok untuk camping, fotografi alam, hingga healing wisata alam

#pasundanupdate #potensidesa #unesco

Continue Reading

Echo Chamber

THE LAST GUARDIAN: Merawat Budaya, Menjaga Masa Depan Indonesia

Published

on

Gedung Widarya Kencana, Selasa, 12 Mei 2026 — Sebuah bangsa tidak selalu runtuh karena perang, krisis ekonomi, atau kemiskinan. Sering kali keruntuhan itu datang perlahan, nyaris tanpa sadar, disaat sebuah masyarakat kehilangan ingatan tentang asal dirinya sendiri. Ia lupa pada tanah tempat ia berpijak, lupa pada nilai yang membesarkannya, lupa pada permainan masa kecil yang mengajarkan kebersamaan, dan lupa pada suara leluhur yang dahulu menuntun arah kehidupan. Mungkin anak-anak lebih akrab dengan gawai daripada halaman rumahnya sendiri, kaulinan barudak digantikan asuhan digital, dan budaya hanya tersisa sebagai seremoni tanpa jiwa. Sesungguhnya yang sedang diuji bukan tradisi saja, melainkan masa depan Indonesia.

Di tengah kegelisahan itu, lahirlah KUMARA LEMAH KARUHUN: The Last Guardian, sebuah drama musikal budaya yang akan digelar pada 14 Juni 2026 di Gedung Juang Kota Sukabumi, dalam dua sesi pertunjukan pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB. Pertunjukan ini merupakan sebuah ikhtiar kebudayaan—usaha sadar untuk mengembalikan manusia pada akar: tanah, alam, leluhur, dan nilai-nilai yang membentuk watak bangsa.

Diprakarsai oleh Indra Gandara, KUMARA LEMAH KARUHUN mempertemukan tujuh komunitas seni dan budaya dalam satu gerakan pertunjukan kolektif: My Sajiwa, Kakoncara, Sayang Iwung, Sekedart, Macan Tunggal, Gentra Swara Percussion, dan Sandhikara Community. Teater, tari, musik, pencak silat, artistik panggung, hingga kaulinan barudak Sunda dipadukan dalam satu dunia dramatik yang utuh. Ini adalah drama musikal budaya yang lahir dari semangat kolaborasi, karena kebudayaan tidak pernah tumbuh dari panggung yang berdiri sendiri, tetapi dari tangan-tangan yang bersedia saling menjaga serta bersifat cair dan dinamis.

Suasana latihan para kumara di GWK Kota Sukabumi

Lebih dari sekadar pertunjukan, KUMARA menjadi ruang pertemuan antar komunitas untuk membangun ekosistem kebudayaan yang hidup, serta sebagai langkah awal membangun peradaban melalui seni, budaya, dan pendidikan generasi muda.

Program ini juga sejalan dengan semangat pemajuan kebudayaan nasional yang dijalankan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana yang kini bertransformasi menjadi Dana IndonesiaRaya. Dalam skema Dana Abadi Kebudayaan tersebut, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bertindak sebagai Program Manager, sementara Lembaga Pengelola Dana Pendidikan berperan sebagai Fund Manager yang memastikan keberlanjutan pendanaan kebudayaan nasional. Negara menempatkan kebudayaan bukan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan fondasi utama peradaban bangsa.

Bagi Indra Gandara, persoalan terbesar hari ini bukan hanya derasnya perkembangan teknologi, melainkan semakin jauhnya manusia dari akar budayanya sendiri. Modernitas sering disalahpahami sebagai kewajiban meninggalkan masa lalu, seolah kemajuan hanya mungkin dicapai dengan melupakan asal-usul. Padahal, menurutnya, persoalannya bukan kita harus kembali ke masa lalu, tetapi sudah waktunya mengembalikan cara berpikir. “Lain kudu balik ka baheula, tapi geus wayah malikkeun pikir.” Sebuah kalimat sederhana yang sesungguhnya mengandung pesan besar tentang makna kemajuan.

Kegelisahan itu paling nyata terlihat pada Generasi Alpha—anak-anak yang tumbuh dekat dengan teknologi, tetapi semakin jauh dari halaman rumah, permainan tradisional, dan ruang sosial yang dahulu membentuk empati. Mereka mengenal dunia global, tetapi perlahan kehilangan bahasa lokal, kehilangan rasa memiliki, bahkan kehilangan hubungan dengan lingkungan tempat mereka hidup. Jika generasi ini kehilangan akar budaya, maka sesungguhnya bangsa ini sedang kehilangan masa depannya.

Karena itu, dalam KUMARA, anak-anak tidak hadir sekadar sebagai penampil. Mereka diposisikan sebagai katalis penerus nilai, penjaga bumi, dan pewaris masa depan budaya. Kaulinan barudak Sunda dihidupkan kembali bukan sebagai nostalgia romantik, tetapi sebagai ruang pembentukan rasa, sosial, dan identitas. Permainan tradisional adalah sekolah pertama tentang kebersamaan, keberanian, kekalahan, kemenangan, dan penghormatan terhadap sesama. Di sanalah karakter manusia dibentuk secara paling alami.

Negara sendiri telah memberikan landasan kuat melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menegaskan bahwa permainan rakyat, tradisi lisan, adat istiadat, dan pengetahuan tradisional merupakan objek penting yang harus dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan diwariskan. Kajian UNESCO tentang Intangible Cultural Heritage juga menegaskan bahwa permainan tradisional adalah bagian penting dari warisan budaya tak benda, karena di sanalah anak-anak membangun identitas, belajar nilai sosial, dan memahami komunitasnya.

Melalui KUMARA, tradisi dihubungkan dengan bahasa pertunjukan modern agar tetap relevan bagi generasi hari ini. Seni menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Teater, tari, musik, pencak silat, dan artistik dipersatukan dalam satu dunia dramatik yang utuh agar pesan budaya tidak terasa jauh, melainkan hangat dan hidup di hati penonton. Hubungan manusia dengan tanah, alam, dan warisan karuhun menjadi inti penting pertunjukan ini.

KUMARA hadir sebagai culture movement—gerakan kesadaran kolektif bahwa budaya harus dihidupkan melalui tindakan keseharian. Ini adalah ajakan bagi seluruh lapisan masyarakat—orang tua, guru, pemuda, tokoh agama, pelajar, pemerintah, hingga warga biasa—untuk ikut menjaga ruang hidup kebudayaan kita.

“Mencintai Indonesia tidak harus dengan merenggut apa yang sudah ada, tidak harus dengan menghapus tradisi demi modernitas, dan tidak pula dengan melupakan akar budaya demi terlihat maju. Justru cinta tanah air yang paling sejati adalah menjaga, merawat, dan meneruskan warisan yang telah dititipkan oleh para leluhur agar tetap hidup dalam langkah generasi berikutnya. Dan jika hari ini kita memilih merawat budaya, sesungguhnya kita sedang menulis masa depan Indonesia dengan akar yang kuat, jiwa yang utuh, dan harapan yang tidak pernah putus,” pungkas Indra Gandara.

#KUMARA #TheLastGuardian #BudayaSunda #Sukabumi #KaulinanBarudak #DramaMusikal #PemajuanKebudayaan #IndonesiaRaya #SeniBudaya #PasundanUpdate

Continue Reading

Favorit

Copyright © 2026 pasundanupdate.com.