Connect with us

Echo Chamber

Pendidikan adalah Doa Kolektif: Membangun Peradaban dari Ruang Kelas hingga Meja Makan

Published

on

Oleh : Solahudin Al Ayubi

Hari Pendidikan Nasional yang kita peringati setiap tanggal 2 Mei sejatinya adalah sebuah momentum nasional untuk mengaudit batin kita sebagai sebuah bangsa: sejauh mana kita telah menempatkan ilmu pengetahuan di atas segala kepentingan sempit lainnya. Pendidikan adalah fondasi yang menentukan apakah sebuah bangsa akan tegak berdiri sebagai raksasa peradaban atau luruh menjadi debu sejarah yang terlupakan.

Bila kita menengok sejarah, tokoh kaliber K.H. Ahmad Dahlan telah memberikan cetak biru pendidikan yang luar biasa melalui visi pendidikan berkemajuan. Beliau menghapus sekat tebal antara pengetahuan spiritual dan intelektual, meyakini bahwa manusia yang utuh adalah mereka yang mampu menyatukan doa dengan kerja serta iman dengan nalar kritis. Konsep “ulama yang intelek dan intelek yang ulama” senada dengan apa yang diperjuangkan Maria Montessori, yang memandang bahwa pendidikan harus membebaskan potensi alami anak. Baginya, disiplin muncul dari kebebasan yang terarah, dan kecerdasan tumbuh subur dalam lingkungan yang penuh kasih serta penghargaan terhadap fitrah manusia.

Melengkapi visi tersebut, Buya Hamka, sang tawadhu sejati, dalam karyanya Falsafah Hidup menulis bahwa pendidikan bukan sekadar mengisi kepala dengan informasi, melainkan membangun “jiwa yang besar”. Bagi beliau, ilmu adalah cahaya yang membimbing akal untuk mengenal kebenaran, namun adab adalah tali yang mengikat ilmu agar bermanfaat bagi sesama. Pendidikan berkemajuan, dalam kacamata Buya Hamka, adalah proses pembentukan “pribadi” yang mandiri—pribadi yang tidak goyah oleh badai zaman karena memiliki akar ketauhidan yang kuat dan akhlak yang halus.

Pendidikan yang berkemajuan bukanlah sistem yang statis, melainkan sebuah proses gerakan batin untuk memanusiakan manusia. Rabindranath Tagore, penyair dan pemikir besar itu, menyatakan bahwa pendidikan tertinggi bukanlah yang sekadar memberi kita informasi, melainkan yang membuat hidup kita selaras dengan seluruh eksistensi. Visi ini dipertegas oleh Buya Syafii Maarif yang menekankan pentingnya “pendidikan yang mencerahkan”. Bagi Buya Syafii, pendidikan harus mampu meruntuhkan tembok-tembok eksklusivisme dan kebencian, serta melahirkan generasi yang memiliki “keindonesiaan yang inklusif” dan kesadaran kosmik untuk menjaga martabat manusia tanpa memandang perbedaan.

Namun, tantangan pendidikan kita tidak hanya berada di pundak para guru di sekolah atau pemangku kebijakan di gedung pemerintahan. Pendidikan berkemajuan adalah tanggung jawab kolektif yang melibatkan setiap lapisan masyarakat, mulai dari petani di sawah hingga profesional di gedung pencakar langit. Setiap orang dewasa di bangsa ini adalah “guru” bagi anak-anak di sekitarnya. Perilaku kita, cara kita bertutur, dan bagaimana kita memperlakukan sesama adalah kurikulum nyata yang paling cepat diserap dan ditiru oleh generasi penerus, melebihi apa pun yang tertulis di papan tulis.

Kita sering kali terjebak pada obsesi terhadap angka-angka di atas kertas atau ijazah yang mentereng, namun kerap melupakan aspek “adab” yang menjadi mahkota dari ilmu pengetahuan. Dalam visi pendidikan berkemajuan, ilmu tanpa karakter adalah cahaya yang tidak menghangatkan, dan kepintaran tanpa empati sosial hanyalah sebuah arogansi yang melukai—bahkan melanggengkan dominasi si profesional atas yang komunal. Sebagaimana pesan Montessori tentang “pendidikan untuk perdamaian”, lingkungan pendidikan harus mampu melahirkan pribadi yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kelembutan hati untuk merawat kemanusiaan dan berpihak pada yang paling lemah.

Maka dari itu, peringatan hari ini harus menjadi seruan bagi para orang tua untuk kembali menjadikan keluarga sebagai madrasah pertama yang progresif. Nilai-nilai kejujuran, kerja keras, dan keterbukaan pikiran pertama kali ditanamkan dengan arif dan penuh keteladanan. Pendidikan formal mungkin memberikan keahlian profesional, namun pendidikan di rumah adalah tempat di mana jiwa menemukan sayapnya untuk terbang tanpa kehilangan pijakan pada bumi. Meja makan harus kembali menjadi ruang dialog bermakna, tempat kebijaksanaan diwariskan secara tulus.

Selain itu, seluruh lapisan masyarakat harus mulai membuka pintu lebih lebar bagi proses pembelajaran yang berbasis pada realitas kehidupan. Kolaborasi antara dunia pengetahuan dan praktik nyata akan melahirkan generasi yang tidak hanya mahir berteori, tetapi juga tangkas beraksi mengatasi ketertinggalan. Kita membutuhkan generasi yang tidak gamang menghadapi perubahan teknologi karena mereka telah dibekali dengan mentalitas pembelajar sepanjang hayat—semangat yang selalu haus akan kemajuan, namun tetap rendah hati di hadapan semesta, sebagaimana diteladankan oleh Buya Syafii Maarif sepanjang hidupnya.

Sebagai penutup, mari kita jadikan Hari Pendidikan Nasional ini sebagai janji setia untuk tidak pernah berhenti belajar dan membelajarkan sesama. Pendidikan adalah lilin yang kita nyalakan bersama-sama untuk mengusir kegelapan kebodohan dan ketertinggalan, sekaligus menumbuhkan harapan untuk menyalakan obor keadilan sosial. Mari kita berjalan beriringan dengan langkah yang teduh namun pasti, menganyam akal dan budi, demi mewujudkan Indonesia yang cerdas bangsanya, mulia akhlaknya, bijaksana sikapnya, dan berkemajuan peradabannya di mata dunia.

#pasundanupdate

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Echo Chamber

UKM Seni Nusa Putra Jadi Peraih Penghargaan Terbanyak di Harmoni Budaya Festival 2026

Published

on

Pasundanupdate.com. – SUKABUMI ,Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Universitas Nusa Putra, Lisensi, tampil sebagai peraih penghargaan terbanyak dalam ajang Harmoni Budaya Festival 2026. Acara yang berlangsung pada 23–24 Mei 2026 tersebut diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Vokasi IPB Sukabumi melalui Departemen Seni dan Budaya.

Dalam kompetisi yang diikuti lebih dari 300 peserta dari 12 perguruan tinggi se-Jabodetabek dan Jawa Barat itu, delegasi Universitas Nusa Putra sukses membawa pulang lima penghargaan dari tiga kategori lomba utama, yakni musik, karya visual, dan tari.

Prestasi tersebut diraih melalui penampilan gemilang mahasiswa Universitas Nusa Putra di berbagai cabang perlombaan. Pada kategori Solo Vokal, Xena Leviana Br. Siregar berhasil meraih Juara 1, sementara Nabila Syahputri memperoleh Juara 2.

Di kategori Poster Digital, Cristian Cahayadi sukses meraih Juara 3 melalui karya visual yang dinilai memiliki kekuatan pesan budaya dan nilai estetika tinggi.

Sementara itu, kategori tari menjadi penyumbang penghargaan terbanyak bagi Lisensi. Grup Tari Swarnadewi berhasil meraih Juara 1 dengan penampilan memukau yang mendapat apresiasi tinggi dari dewan juri. Kelompok tersebut beranggotakan Mukhti Aulia Nazar, Aliza Ainun Salsabila, Intan Apriliani, Ruaida, dan Ayu Sri Mulyani.

Tak kalah membanggakan, Grup Tari Raspati juga sukses meraih Juara 3 berkat kekompakan tim dan kualitas gerak yang dinilai kuat selama penampilan. Grup ini terdiri atas Indah Nursyafitri, Az Zahra Khoirunnisha, Meli Amelia, Putri Noviar, dan Farisa Oktavia Sumantri.

Keberhasilan dua kelompok tari tersebut melengkapi capaian Lisensi yang tahun ini berhasil membawa pulang total lima penghargaan sekaligus. Hasil itu menempatkan UKM Seni Universitas Nusa Putra sebagai salah satu kontingen paling menonjol dalam festival seni mahasiswa tersebut.

Koreografer Divisi Tari Lisensi, Sekaligus kepala bidang pendidikan dan kebudayaan Di Yayasan Bumi Karuhun Kadudampit (YBKK), Indra Gandara, S.Pd., M.Pd., mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses latihan panjang dan kerjasama solid seluruh anggota tim.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi mahasiswa melalui seni. Yang terpenting bukan hanya hasil yang diperoleh, tetapi juga proses pembelajaran, disiplin, dan kolaborasi yang terbangun selama persiapan,” ujar Indra.

Menurutnya, proses persiapan karya tari dilakukan secara bertahap melalui latihan rutin, penyempurnaan koreografi, hingga evaluasi berbagai aspek pertunjukan.

Dalam proses pembinaan, Indra didampingi oleh asisten koreografer Zein. Keduanya terlibat aktif dalam pengembangan konsep karya hingga pendampingan peserta selama masa persiapan dan pelaksanaan kompetisi.

Dukungan penuh juga diberikan oleh Viranie Dwi Monikawatie, M.Pd., selaku Pembina UKM Seni Universitas Nusa Putra. Ia menilai kegiatan seni mahasiswa memiliki peran penting dalam membangun kreativitas, kepercayaan diri, dan kemampuan kolaborasi mahasiswa.

“Partisipasi dalam festival seni menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk menampilkan hasil pembelajaran sekaligus memperluas wawasan melalui interaksi dengan peserta dari berbagai latar belakang institusi,” tambah Viranie.

Sementara itu, Ketua Panitia Harmoni Budaya Festival 2026, Rizky Pratama, memberikan apresiasi terhadap kualitas penampilan seluruh peserta, khususnya delegasi Universitas Nusa Putra.

“Standar penampilan tahun ini sangat tinggi. Penampilan dari UKM Seni Nusa Putra menjadi salah satu yang terbaik, baik dari segi kedalaman makna karya maupun kualitas teknis pertunjukan. Mereka layak menyandang predikat kontingen dengan perolehan penghargaan terbanyak tahun ini,” ungkap Rizky.

Harmoni Budaya Festival 2026 sendiri digelar sebagai wadah apresiasi bagi mahasiswa yang memiliki minat dan kemampuan di bidang seni dan budaya. Melalui berbagai kategori lomba yang diselenggarakan, peserta memperoleh kesempatan untuk menampilkan karya kreatif dalam bentuk pertunjukan maupun karya visual.

Bagi Lisensi, capaian tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengembangkan kegiatan seni di lingkungan kampus. Selain berfokus pada prestasi, organisasi ini juga mendorong mahasiswa menjadikan seni sebagai ruang pembelajaran, kolaborasi, dan pembentukan karakter.

Perolehan lima penghargaan sekaligus menunjukkan kontribusi nyata mahasiswa Universitas Nusa Putra dalam melestarikan dan mengembangkan seni, mulai dari musik, seni visual, hingga seni pertunjukan.

Dengan hasil tersebut, UKM Seni Universitas Nusa Putra menutup partisipasinya di Harmoni Budaya Festival 2026 dengan catatan sangat positif. Lima penghargaan yang diraih tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para peserta, tetapi juga mencerminkan komitmen organisasi dalam mendukung pengembangan seni dan budaya di kalangan generasi muda Indonesia.

Continue Reading

Echo Chamber

KUMARA LEMAH KARUHUN: Menjawab Seruan Gubernur Jabar, Seni Pertunjukan Jadi Sekolah Karakter dan Kecerdasan Majemuk Generasi Muda

Published

on

Sukabumi, 21 Mei 2026 – Dalam arus deras transformasi digital yang perlahan menggeser ruang interaksi nyata anak-anak, muncul kegelisahan besar dari berbagai kalangan. Generasi masa kini semakin kehilangan tontonan yang sejatinya menjadi tuntunan. Di saat yang bersamaan, wacana kuat yang digaungkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai urgensi memasukkan teater ke dalam sistem pendidikan sekolah sebagai pilar utama penguatan karakter, kini menemukan jawaban nyata dan bukti konkret.

Pasukan kumara melakukan formasi orai-orain saat latihan gabungan

Jawaban itu hadir megah dalam wujud KUMARA Lemah Karuhun: The Last Guardian, sebuah drama musikal budaya kolosal yang tidak hanya hadir untuk menghibur, melainkan juga telah teruji melalui kajian akademik sebagai media pembentukan karakter sekaligus peningkatan kecerdasan majemuk anak bangsa.

Penggagas sekaligus sutradara KUMARA, Indra Gandara, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa gagasan menjadikan seni pertunjukan sebagai media strategis pendidikan karakter sejatinya bukanlah hal baru baginya. Sejak tahun 2018, jauh sebelum wacana ini menjadi pembahasan publik secara luas, Indra telah konsisten menjalankan proses kreatif mendalam bersama anak-anak dan berbagai komunitas seni, membuktikan bahwa panggung adalah ruang hidup paling efektif untuk menumbuhkan kualitas manusia seutuhnya.

Kini, melalui KUMARA, visi besar tersebut direalisasikan dalam skala yang jauh lebih luas, lebih terstruktur, dan lebih berdampak bagi masyarakat Jawa Barat bahkan Indonesia.

“Keresahan kita sama, anak-anak hari ini banyak terpapar konten yang tidak menyentuh rasa, tidak membangun empati, dan melemahkan hubungan sosial. Di sisi lain, Bapak Gubernur Dedi Mulyadi telah mengingatkan kita semua bahwa teater dan seni pertunjukan harus masuk ke sekolah karena di situlah akar karakter dibentuk. Kami di KUMARA menyambut gagasan mulia ini bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan karya dan bukti nyata yang telah kami kaji secara ilmiah bertahun-tahun,” ungkap Indra Gandara di sela-sela latihan gabungan besar yang melibatkan tujuh komunitas seni dan lebih dari 120 pemain di Mardiyuana Cikembar, Kamis.

Yang menjadikan gerakan KUMARA istimewa dan berbeda dari pertunjukan seni biasa adalah landasan ilmiah yang kokoh. Indra Gandara menambahkan, seluruh konsep yang dibangun dalam KUMARA, khususnya yang berbasis pada kaulinan barudak Sunda atau permainan tradisional, telah melalui serangkaian riset mendalam dan kajian akademik dengan hasil yang luar biasa.

Data dan pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa seni pertunjukan yang dikemas melalui pendekatan permainan rakyat tidak hanya berfungsi melestarikan budaya, melainkan juga memiliki dampak signifikan dalam menguatkan fondasi karakter anak sekaligus meningkatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) secara menyeluruh.

“Kajian kami membuktikan, saat anak-anak terlibat dalam proses ini, mereka tidak hanya belajar berakting atau bergerak. Melalui kaulinan barudak yang kami hidupkan kembali dengan nilai baru, kecerdasan linguistik, logika-matematis, spasial, kinestetik, musikal, antarpribadi, intrapribadi, hingga kecerdasan naturalis berkembang secara bersamaan, alami, dan menyenangkan. Ini adalah metode pendidikan paling lengkap yang dimiliki leluhur kita, dan kami buktikan secara akademik bahwa metode ini jauh lebih efektif membentuk manusia cerdas dan berkarakter dibandingkan sekadar pembelajaran satu arah,” jelas Indra sebagai akademisi.

Pemeran Wira dan Nini Hejo

Dalam KUMARA Lemah Karuhun, pendekatan ini diterapkan secara utuh. Pertunjukan tersebut memadukan seni peran, musik etnik, tarian, seni bela diri pencak silat, tata artistik, serta nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal dalam satu kesatuan narasi yang kuat.

Di sini, anak-anak tidak diposisikan sekadar sebagai penampil latar, melainkan sebagai subjek utama yang memaknai setiap gerakan dan cerita. Nilai kebersamaan, kejujuran, keberanian, sportivitas saat kalah, rasa syukur saat menang, hingga rasa hormat kepada alam dan leluhur ditanamkan melalui pengalaman hidup di atas panggung.

Konsep ini sangat sejalan dengan visi Gubernur Jawa Barat yang berulang kali menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak anak yang pintar secara akademik, tetapi kosong secara budaya dan karakter.

“Teater adalah laboratorium kehidupan terbaik karena di sana anak belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain, belajar memimpin, belajar bekerja sama, dan belajar menjadi manusia yang beradab,” ujarnya.

Lebih jauh, Indra Gandara menegaskan bahwa KUMARA hadir bukan sekadar sebagai tontonan seni, melainkan sebuah gerakan kebudayaan besar. Gerakan ini berupaya mengembalikan panggung pertunjukan pada fungsi aslinya, yakni sebagai ruang tumbuh kembang imajinasi, ruang pendidikan nilai, dan ruang pembentuk kesadaran kolektif bagi generasi masa depan.

Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana — kini Dana Indonesia Raya — serta pengelolaan pendanaan oleh LPDP semakin mengukuhkan bahwa negara menaruh harapan besar pada pendekatan ini sebagai model pemajuan kebudayaan berbasis pendidikan karakter.

“Pesan leluhur kami sampaikan kembali: ‘Lain kudu balik ka baheula, tapi geus wayah malikkeun pikir.’ Kita tidak perlu kembali hidup di masa lalu, tetapi kita harus mengembalikan cara berpikir bahwa kemajuan dan teknologi tidak boleh membuat kita kehilangan jati diri. Seni pertunjukan berbasis budaya adalah jembatan emasnya,” tambah Indra.

Melihat antusiasme peserta latihan yang datang dari berbagai usia dan latar belakang, serta dukungan luas dari masyarakat dan sekolah, KUMARA Lemah Karuhun yang akan digelar pada 14 Juni 2026 mendatang di Gedung Juang Kota Sukabumi, pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB, diprediksi akan menjadi tonggak sejarah baru.

Pertunjukan ini menjadi bukti bahwa seruan pemimpin untuk menjadikan seni sebagai tulang punggung pendidikan karakter telah dijawab dengan karya agung yang siap melahirkan generasi cerdas, berbudi luhur, dan mencintai akar budayanya sendiri.

Bagi Indra Gandara dan timnya, ini baru permulaan.

“Setelah Sukabumi, model ini harus menyebar ke seluruh Jawa Barat dan Indonesia agar setiap anak bangsa mendapatkan haknya untuk tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya pintar otaknya, tetapi juga kaya hatinya dan kuat karakternya,” pungkasnya.

Continue Reading

Echo Chamber

Pulau Kunti, Surga Tersembunyi di Geopark Ciletuh Sukabumi yang Tawarkan Snorkeling hingga Banana Boat

Published

on

Pasundanupdate.com. – Kawasan Geopark Ciletuh Palabuhanratu kembali menghadirkan pesona wisata alam yang memikat wisatawan. Salah satu destinasi yang mulai banyak dilirik adalah Pulau Kunti, sebuah kawasan semenanjung batuan purba yang berada di Desa Mandrajaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Meski dikenal dengan nama “Pulau Kunti”, lokasi ini sejatinya bukan sebuah pulau, melainkan tanjung batuan purba yang berada di kawasan UNESCO Global Geopark Ciletuh. Destinasi ini menawarkan perpaduan panorama laut selatan, pasir putih, batuan eksotis, hingga keindahan bawah laut yang masih alami.

Foto: Rista –  Pulau Kunti

Berjarak sekitar empat jam perjalanan dari pusat Kota Sukabumi, wisatawan dapat menuju kawasan Pantai Palangpang atau muara Sungai Ciletuh terlebih dahulu. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu nelayan atau boat wisata selama kurang lebih 20 hingga 30 menit menuju kawasan Pulau Kunti.

Keindahan Pulau Kunti terletak pada suasana alamnya yang masih asri. Air laut yang jernih berwarna biru kehijauan membuat kawasan ini cocok untuk aktivitas snorkeling dan wisata bahari lainnya. Tidak sedikit wisatawan yang datang untuk menikmati sensasi berenang di tengah laut sambil melihat hamparan terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang masih terjaga.

Selain snorkeling, pengunjung juga dapat menikmati aktivitas banana boat, trekking batuan purba, hingga menikmati panorama matahari terbit dan terbenam di kawasan pesisir selatan Sukabumi.

Salah satu daya tarik utama Pulau Kunti adalah keberadaan batuan purba berusia sekitar 55 hingga 65 juta tahun. Kawasan ini bahkan disebut sebagai salah satu geosite penting di Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang memiliki nilai geologi tinggi.

Tidak hanya menyuguhkan wisata alam, Pulau Kunti juga menawarkan pengalaman petualangan yang lengkap. Wisatawan bisa menjelajahi gua alami, menikmati pasir putih yang tenang, hingga berburu foto Instagramable dengan latar laut lepas dan tebing hijau yang mengelilingi kawasan tersebut.

Paket Wisata Lokal Mulai Rp95 Ribu

Menariknya, kini wisata Pulau Kunti semakin mudah dinikmati melalui berbagai paket wisata yang ditawarkan pemandu lokal atau local guide Geopark Ciletuh.

Berdasarkan poster promosi yang beredar, tersedia beberapa pilihan paket wisata dengan harga terjangkau. Paket pertama dibanderol mulai Rp95 ribu per orang untuk minimal 10 peserta, sudah termasuk wisata pasir putih Pulau Kunti dan banana boat.

Sementara paket kedua dipatok Rp150 ribu per orang untuk minimal enam peserta, dengan fasilitas wisata pasir putih, banana boat, dan snorkeling.

Foto : Rista, Snorkeling Pulau Kunti

Adapun untuk paket reguler, wisatawan bisa memilih aktivitas secara terpisah, mulai dari wisata pasir putih Pulau Kunti Rp50 ribu per orang, banana boat Rp50 ribu, hingga snorkeling mulai Rp120 ribu per orang. Paket tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena menawarkan pengalaman wisata bahari dengan biaya yang relatif terjangkau.

Foto : Rista, Snorkeling Pulau Kunti

Selain harga yang ramah kantong, wisatawan juga difasilitasi perlengkapan keselamatan seperti life jacket dan pendamping lokal selama aktivitas laut berlangsung.

Namun demikian, wisatawan tetap diimbau menjaga kebersihan kawasan dan mematuhi aturan konservasi yang berlaku di kawasan Geopark Ciletuh. Beberapa informasi terbaru menyebutkan bahwa sebagian area Pulau Kunti mulai dibatasi untuk menjaga kelestarian ekosistem dan batuan purba di kawasan tersebut.

Continue Reading

Favorit

Copyright © 2026 pasundanupdate.com.