Editorial
Tanah Liat Cicantayan Dinilai Berkualitas Tinggi, Berpotensi Jadi Bahan Kriya Unggulan
Pasundanupdate.com, SUKABUMI, – Tanah liat yang selama ini dimanfaatkan untuk produksi bata merah di Desa Cicantayan, Kecamatan Cantayan, Kabupaten Sukabumi, dinilai memiliki kualitas tinggi dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku kriya oleh kalangan perajin.
Selain dikenal mudah dibentuk, tanah liat dari wilayah ini memiliki tekstur halus dan daya rekat yang baik, sehingga memungkinkan proses pembentukan yang lebih presisi. Karakter tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam dunia kriya, khususnya untuk pembuatan keramik dan gerabah bernilai artistik.

Foto: Istimewa
Sejumlah perajin menyebutkan, kualitas tanah liat sangat menentukan hasil akhir sebuah karya. Tanah yang plastis dan stabil akan memudahkan proses pembentukan serta mengurangi risiko retak saat pengeringan maupun pembakaran.
“Kalau tanahnya bagus, hasilnya juga lebih halus dan kuat. Ini sebenarnya cocok untuk kerajinan, bukan hanya bata,” ujar salah satu pengrajin dari Jakarta
Selama ini, pemanfaatan tanah liat di wilayah tersebut masih didominasi untuk kebutuhan konstruksi. Padahal, dari sudut pandang seni dan kriya, bahan yang sama memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi.
Dalam praktiknya, tanah liat berkualitas seperti yang terdapat di Cicantayan dapat diolah menjadi berbagai produk, antara lain:
- gerabah artistik
- keramik hias
- vas dan pot dekoratif
- peralatan rumah tangga berbasis kriya
Dengan sentuhan desain dan teknik pengolahan yang tepat, produk-produk tersebut tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga nilai estetika yang diminati pasar.
Pengembangan kriya berbasis tanah liat ini dinilai dapat menjadi peluang baru bagi pelaku UMKM di desa, sekaligus membuka akses ke sektor ekonomi kreatif. Terlebih, tren produk handmade dan berbasis material alami saat ini terus meningkat.
Namun demikian, pengembangan potensi tersebut masih memerlukan dukungan, terutama dalam hal pelatihan keterampilan, penguatan desain, serta akses pasar yang lebih luas.
Dengan kualitas bahan yang dinilai baik oleh para perajin, tanah liat Cicantayan memiliki peluang untuk berkembang tidak hanya sebagai bahan bangunan, tetapi juga sebagai medium karya seni yang bernilai tinggi dan berdaya saing.
Echo Chamber
KUMARA LEMAH KARUHUN: Menjawab Seruan Gubernur Jabar, Seni Pertunjukan Jadi Sekolah Karakter dan Kecerdasan Majemuk Generasi Muda
Sukabumi, 21 Mei 2026 – Dalam arus deras transformasi digital yang perlahan menggeser ruang interaksi nyata anak-anak, muncul kegelisahan besar dari berbagai kalangan. Generasi masa kini semakin kehilangan tontonan yang sejatinya menjadi tuntunan. Di saat yang bersamaan, wacana kuat yang digaungkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai urgensi memasukkan teater ke dalam sistem pendidikan sekolah sebagai pilar utama penguatan karakter, kini menemukan jawaban nyata dan bukti konkret.

Pasukan kumara melakukan formasi orai-orain saat latihan gabungan
Jawaban itu hadir megah dalam wujud KUMARA Lemah Karuhun: The Last Guardian, sebuah drama musikal budaya kolosal yang tidak hanya hadir untuk menghibur, melainkan juga telah teruji melalui kajian akademik sebagai media pembentukan karakter sekaligus peningkatan kecerdasan majemuk anak bangsa.
Penggagas sekaligus sutradara KUMARA, Indra Gandara, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa gagasan menjadikan seni pertunjukan sebagai media strategis pendidikan karakter sejatinya bukanlah hal baru baginya. Sejak tahun 2018, jauh sebelum wacana ini menjadi pembahasan publik secara luas, Indra telah konsisten menjalankan proses kreatif mendalam bersama anak-anak dan berbagai komunitas seni, membuktikan bahwa panggung adalah ruang hidup paling efektif untuk menumbuhkan kualitas manusia seutuhnya.
Kini, melalui KUMARA, visi besar tersebut direalisasikan dalam skala yang jauh lebih luas, lebih terstruktur, dan lebih berdampak bagi masyarakat Jawa Barat bahkan Indonesia.
“Keresahan kita sama, anak-anak hari ini banyak terpapar konten yang tidak menyentuh rasa, tidak membangun empati, dan melemahkan hubungan sosial. Di sisi lain, Bapak Gubernur Dedi Mulyadi telah mengingatkan kita semua bahwa teater dan seni pertunjukan harus masuk ke sekolah karena di situlah akar karakter dibentuk. Kami di KUMARA menyambut gagasan mulia ini bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan karya dan bukti nyata yang telah kami kaji secara ilmiah bertahun-tahun,” ungkap Indra Gandara di sela-sela latihan gabungan besar yang melibatkan tujuh komunitas seni dan lebih dari 120 pemain di Mardiyuana Cikembar, Kamis.
Yang menjadikan gerakan KUMARA istimewa dan berbeda dari pertunjukan seni biasa adalah landasan ilmiah yang kokoh. Indra Gandara menambahkan, seluruh konsep yang dibangun dalam KUMARA, khususnya yang berbasis pada kaulinan barudak Sunda atau permainan tradisional, telah melalui serangkaian riset mendalam dan kajian akademik dengan hasil yang luar biasa.
Data dan pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa seni pertunjukan yang dikemas melalui pendekatan permainan rakyat tidak hanya berfungsi melestarikan budaya, melainkan juga memiliki dampak signifikan dalam menguatkan fondasi karakter anak sekaligus meningkatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences) secara menyeluruh.
“Kajian kami membuktikan, saat anak-anak terlibat dalam proses ini, mereka tidak hanya belajar berakting atau bergerak. Melalui kaulinan barudak yang kami hidupkan kembali dengan nilai baru, kecerdasan linguistik, logika-matematis, spasial, kinestetik, musikal, antarpribadi, intrapribadi, hingga kecerdasan naturalis berkembang secara bersamaan, alami, dan menyenangkan. Ini adalah metode pendidikan paling lengkap yang dimiliki leluhur kita, dan kami buktikan secara akademik bahwa metode ini jauh lebih efektif membentuk manusia cerdas dan berkarakter dibandingkan sekadar pembelajaran satu arah,” jelas Indra sebagai akademisi.

Pemeran Wira dan Nini Hejo
Dalam KUMARA Lemah Karuhun, pendekatan ini diterapkan secara utuh. Pertunjukan tersebut memadukan seni peran, musik etnik, tarian, seni bela diri pencak silat, tata artistik, serta nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal dalam satu kesatuan narasi yang kuat.
Di sini, anak-anak tidak diposisikan sekadar sebagai penampil latar, melainkan sebagai subjek utama yang memaknai setiap gerakan dan cerita. Nilai kebersamaan, kejujuran, keberanian, sportivitas saat kalah, rasa syukur saat menang, hingga rasa hormat kepada alam dan leluhur ditanamkan melalui pengalaman hidup di atas panggung.
Konsep ini sangat sejalan dengan visi Gubernur Jawa Barat yang berulang kali menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak anak yang pintar secara akademik, tetapi kosong secara budaya dan karakter.
“Teater adalah laboratorium kehidupan terbaik karena di sana anak belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain, belajar memimpin, belajar bekerja sama, dan belajar menjadi manusia yang beradab,” ujarnya.
Lebih jauh, Indra Gandara menegaskan bahwa KUMARA hadir bukan sekadar sebagai tontonan seni, melainkan sebuah gerakan kebudayaan besar. Gerakan ini berupaya mengembalikan panggung pertunjukan pada fungsi aslinya, yakni sebagai ruang tumbuh kembang imajinasi, ruang pendidikan nilai, dan ruang pembentuk kesadaran kolektif bagi generasi masa depan.
Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana — kini Dana Indonesia Raya — serta pengelolaan pendanaan oleh LPDP semakin mengukuhkan bahwa negara menaruh harapan besar pada pendekatan ini sebagai model pemajuan kebudayaan berbasis pendidikan karakter.
“Pesan leluhur kami sampaikan kembali: ‘Lain kudu balik ka baheula, tapi geus wayah malikkeun pikir.’ Kita tidak perlu kembali hidup di masa lalu, tetapi kita harus mengembalikan cara berpikir bahwa kemajuan dan teknologi tidak boleh membuat kita kehilangan jati diri. Seni pertunjukan berbasis budaya adalah jembatan emasnya,” tambah Indra.
Melihat antusiasme peserta latihan yang datang dari berbagai usia dan latar belakang, serta dukungan luas dari masyarakat dan sekolah, KUMARA Lemah Karuhun yang akan digelar pada 14 Juni 2026 mendatang di Gedung Juang Kota Sukabumi, pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB, diprediksi akan menjadi tonggak sejarah baru.
Pertunjukan ini menjadi bukti bahwa seruan pemimpin untuk menjadikan seni sebagai tulang punggung pendidikan karakter telah dijawab dengan karya agung yang siap melahirkan generasi cerdas, berbudi luhur, dan mencintai akar budayanya sendiri.
Bagi Indra Gandara dan timnya, ini baru permulaan.
“Setelah Sukabumi, model ini harus menyebar ke seluruh Jawa Barat dan Indonesia agar setiap anak bangsa mendapatkan haknya untuk tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya pintar otaknya, tetapi juga kaya hatinya dan kuat karakternya,” pungkasnya.
Editorial
Curug Sodong, Permata Air Terjun Kembar di Jantung Geopark Ciletuh
Pasundanupdate.com — Di balik bentang alam megah kawasan Geopark Ciletuh, tersembunyi sebuah air terjun yang selalu berhasil membuat siapa pun terdiam beberapa saat saat pertama kali melihatnya. Namanya Curug Sodong, air terjun kembar yang berada di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Dikelilingi rimbunnya pepohonan tropis dan tebing batu purba khas kawasan Ciletuh, Curug Sodong menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan hanya lewat foto. Gemuruh air yang jatuh dari ketinggian berpadu dengan udara lembab pegunungan menciptakan pengalaman yang menenangkan sekaligus memukau.
Curug ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata alam di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark. Salah satu daya tarik utamanya adalah dua aliran air yang berdampingan, sehingga masyarakat menyebutnya sebagai “Curug Kembar” atau “Air Terjun Panganten”.

Foto: Rista-Curug Sodong Ciletuh.
Nama “Sodong” sendiri berasal dari bahasa Sunda yang merujuk pada cekungan mirip goa di balik air terjun. Dari sudut tertentu, pengunjung dapat melihat rongga alami di balik derasnya aliran air, menciptakan panorama yang terasa seperti lukisan alam hidup.
Menariknya lagi, Curug Sodong menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan karena akses menuju lokasi relatif mudah dibanding beberapa curug lain di kawasan Ciletuh. Kendaraan roda dua maupun roda empat bisa mencapai area wisata dengan cukup nyaman.
Selain menikmati air terjun, wisatawan juga bisa merasakan atmosfer khas geopark dunia. Kawasan Ciletuh sendiri dikenal memiliki bentang alam purba dengan nilai geologi tinggi yang telah diakui UNESCO. Tebing batu, sungai, perbukitan hijau hingga garis pantai selatan menjadi satu kesatuan ekosistem yang membuat wilayah ini berbeda dari destinasi wisata biasa.
Bagi pecinta fotografi, Curug Sodong menawarkan banyak sudut menarik. Pepohonan besar di sekitar air terjun membentuk frame alami, sementara kabut tipis dari hempasan air sering menciptakan nuansa dramatis terutama pada pagi dan sore hari.
Tak sedikit wisatawan menyebut Curug Sodong sebagai tempat untuk “recharge” dari hiruk pikuk kota. Duduk di bebatuan sambil mendengar suara air jatuh menjadi pengalaman sederhana yang justru paling dicari.
Namun di balik keindahannya, kawasan ini juga mengingatkan pentingnya menjaga alam. Beberapa waktu lalu kondisi air Curug Sodong sempat menjadi perhatian karena berubah keruh akibat faktor lingkungan di aliran sungai hulunya. Hal itu menjadi pengingat bahwa kelestarian kawasan geopark harus dijaga bersama.
Kini Curug Sodong tetap menjadi salah satu wajah paling memikat dari Sukabumi Selatan tempat di mana alam, sejarah geologi, dan ketenangan bertemu dalam satu lanskap yang sulit dilupakan.
Fakta Menarik Curug Sodong
- Berada di kawasan UNESCO Global Geopark Ciletuh
- Dijuluki Curug Kembar atau Air Terjun Panganten
- Memiliki dua aliran air utama setinggi sekitar 20 meter
- Nama “Sodong” berasal dari cekungan mirip goa di balik air terjun
- Menjadi salah satu curug dengan akses termudah di kawasan Ciletuh
- Cocok untuk camping, fotografi alam, hingga healing wisata alam
#pasundanupdate #potensidesa #unesco
Editorial
Ekonomi Tumbuh dari Kebun Kapol, Petani di Desa Sirnamekar Tegalbuleud Rasakan Dampaknya
Pasundanupdate.com – 18 Mei 2026, Tanaman kapol atau kapulaga kini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di Desa Sirnamekar, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Komoditas rempah bernilai jual tinggi tersebut perlahan mengubah kondisi ekonomi warga melalui hasil kebun yang terus berkembang dari tahun ke tahun.
Di wilayah selatan Sukabumi, kapol menjadi tanaman andalan masyarakat karena dinilai cocok dengan kondisi tanah dan iklim pegunungan. Selain mudah dirawat, hasil panennya juga memiliki permintaan pasar yang cukup stabil.
Mang Kodir (46), petani kapol asal Desa Sirnamekar, mengatakan bahwa kebun kapol telah menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga di desanya. Menurutnya, sebagian warga kini mulai serius mengembangkan tanaman rempah tersebut karena mampu membantu kebutuhan ekonomi sehari-hari.
“Kapol ayeuna jadi harapan warga. Hasilna tiasa kanggo biaya sakola budak, kebutuhan sapopoe, sareng ngabantu ekonomi keluarga,” ujar Mang Kodir saat ditemui di area perkebunan kapol miliknya.
Ia menjelaskan, tanaman kapol tidak membutuhkan perawatan yang terlalu sulit. Petani hanya menjaga kelembapan lahan serta membersihkan rumput liar di sekitar tanaman agar pertumbuhannya tetap optimal. Masa panen yang dapat berlangsung berkala membuat petani tetap memiliki pemasukan dalam jangka panjang.
Kapulaga sendiri diketahui menjadi salah satu komoditas rempah unggulan di wilayah Pajampangan Sukabumi. Dalam beberapa tahun terakhir, harga jual kapol sempat mengalami peningkatan sehingga memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani di pedesaan.
Masyarakat berharap adanya dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian rempah, mulai dari akses pemasaran, pendampingan petani, hingga pengembangan potensi desa berbasis pertanian. Dengan potensi alam yang mendukung, kebun kapol diyakini dapat menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat Desa Sirnamekar dan wilayah selatan Sukabumi.
#KapolSukabumi #DesaSirnamekar #Tegalbuleud #PetaniKapol
-
Hukum2 months agoSidang ke-5 Gugatan Wakaf, Aktivis Tegaskan Ada “Penyelundupan Hukum” dalam Kerja Sama Pemkot Sukabumi–YPPDB
-
Hukum3 months agoDeadlock, Gugatan Wakaf Wali Kota Sukabumi Masuk Tahap Pembacaan Gugatan
-
Editorial4 months agoRamadan 1447 H Jadi Momentum Perubahan Kolektif, Bukan Sekadar Ibadah Personal
-
Uncategorized2 months ago“Menunggu di Jalan, Melawan di Waktu Luang: Suara Perlawanan Pengemudi Online dari Sukabumi”
-
Headline2 months agoBedah Buku “Menunggu dan Mati Waktu Luang”: Ruang Konsolidasi Perlawanan Ojol di Sukabumi
-
Echo Chamber2 weeks agoKUMARA LEMAH KARUHUN: Menjawab Seruan Gubernur Jabar, Seni Pertunjukan Jadi Sekolah Karakter dan Kecerdasan Majemuk Generasi Muda
-
Feature3 months agoAsap Isep Sukabumi, Smoke House Kadudampit yang Tawarkan Sensasi Kuliner Asap dan Konsep Slow Living
-
Laporan Khusus4 months agoMulai 2026, Penulisan Tempat di Akta Wajib Cantumkan Kabupaten atau Kota
