Echo Chamber

Di Usia Senja, Bah Wiwin Bertahan dari Arkuh Layangan: 2.000 Batang Seminggu Demi Menyambung Hidup

Published

on

SUKABUMI, PasundanUpdate.com – Saat sebagian besar warga Kampung Bobojong, Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, masih mengandalkan kebun sebagai sumber penghidupan, Bah Wiwin memilih jalan yang berbeda. Bukan karena ingin, melainkan karena keadaan yang membuatnya tak lagi sekuat dulu.

Abah Wiwin sedang meraut arkuh

Di usianya yang telah renta, Bah Wiwin sudah tidak sanggup bekerja di kebun seperti kebanyakan warga lainnya. Tenaga yang semakin berkurang membuat aktivitas berkebun yang membutuhkan kekuatan fisik menjadi pekerjaan yang sulit dijalaninya. Namun, menyerah bukanlah pilihan.

Di sebuah sudut rumah sederhana di Kampung Bobojong, tangannya yang mulai keriput masih telaten membelah dan meraut bambu. Dari pekerjaan itulah lahir ribuan batang arkuh layangan, rangka bambu tipis yang menjadi bagian penting dalam pembuatan layang-layang tradisional.

Baca Juga : https://pasundanupdate.com/2026/05/25/delegasi-nusa-putra-dominasi-harmoni-budaya-festival-2026/

Setiap pekan, Bah Wiwin mampu menghasilkan sekitar 2.000 batang arkuh yang kemudian dijual kepada pengepul dengan harga sekitar Rp100.000.

Nominal tersebut mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun bagi Bah Wiwin, hasil dari kerajinan sederhana itu menjadi sumber penghasilan yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau ke kebun sudah tidak kuat lagi. Jadi sekarang membuat arkuh saja yang masih bisa dikerjakan di rumah,” tuturnya.

Pekerjaan membuat arkuh membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Bambu harus dipilih, dibelah, kemudian diraut hingga menghasilkan ukuran yang sesuai. Sedikit saja keliru, arkuh bisa patah atau tidak layak digunakan.

Meski dikerjakan dalam kondisi fisik yang tak lagi prima, Bah Wiwin tetap berusaha menjaga kualitas hasil kerajinannya. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya memahami karakter bambu dan kebutuhan para pembuat layang-layang.

Arkuh layangan

Di balik ramainya langit yang dipenuhi layangan saat musim kemarau, ada tangan-tangan seperti Bah Wiwin yang jarang tersorot. Mereka bekerja dalam diam, menjaga mata rantai ekonomi rakyat yang sederhana namun tetap hidup hingga hari ini.

Arkuh yang dibuatnya tidak langsung sampai ke tangan pembeli. Produk tersebut terlebih dahulu dijual kepada pengepul yang kemudian mendistribusikannya ke berbagai daerah. Dari sanalah roda ekonomi kecil di Kampung Bobojong terus berputar.

Kisah Bah Wiwin menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat desa berupaya bertahan di tengah keterbatasan. Ketika usia tak lagi memungkinkan untuk bekerja di sektor yang membutuhkan tenaga besar, keterampilan menjadi modal terakhir yang bisa diandalkan.

Di tengah arus modernisasi dan berkurangnya minat generasi muda terhadap pekerjaan tradisional, keberadaan perajin seperti Bah Wiwin menyimpan pesan penting tentang ketekunan, kemandirian, dan perjuangan hidup. Setiap batang arkuh yang dirautnya bukan sekadar bahan pembuat layangan, melainkan simbol semangat seorang warga desa yang terus berusaha berdiri di atas kakinya sendiri meski usia tak lagi muda.

Bagi Bah Wiwin, suara bambu yang diraut setiap hari bukan hanya bunyi pekerjaan. Di sanalah harapan masih dirangkai, satu demi satu, untuk menyambung kehidupan di masa senja.

#Sukabumi #Kadudampit #GedePangrango #Bobojong #Layangan #ArkuhLayangan #UMKM #EkonomiKreatif #BudayaLokal #PasundanUpdate

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Favorit

Exit mobile version