Editorial
Curug Luhur Sukabumi, Surga Tersembunyi di Cireunghas yang Menawan Namun Minim Fasilitas
SUKABUMI – Kabupaten Sukabumi kembali menawarkan destinasi wisata alam yang memikat. Salah satunya adalah Curug Luhur Karikil, air terjun alami yang berada di Desa Cikurutug, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Keindahan alam yang masih asri, udara sejuk pegunungan, serta suara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian menjadikan Curug Luhur sebagai destinasi alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana tenang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Foto : Yellow Home Syndicate – Naik, Jatuh, Pulih
Destinasi Alam yang Masih Alami
Curug Luhur menawarkan panorama air terjun yang mengalir deras di antara tebing dan pepohonan hijau. Lokasinya yang relatif belum tersentuh pembangunan besar membuat kawasan ini tetap alami dan cocok bagi pecinta wisata petualangan ringan.
Akses menuju lokasi bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat hingga area parkir warga. Selanjutnya, pengunjung harus berjalan kaki (trekking) sekitar 10–20 menit dengan jalur yang cukup menantang, terutama saat musim hujan.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hingga siang hari saat cuaca cerah. Selain menikmati pemandangan, pengunjung juga kerap memanfaatkan lokasi ini untuk berfoto, bersantai, hingga membuat konten media sosial.
Dikelola Swadaya Masyarakat
Curug Luhur saat ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Peran warga cukup dominan dalam menjaga kebersihan, keamanan, serta membantu pengunjung yang datang.
Dengan biaya masuk yang relatif terjangkau, keberadaan wisata ini turut membantu menambah pendapatan masyarakat sekitar, terutama dari sektor parkir dan warung kecil.
Potensi Curug Luhur dinilai cukup besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan Sukabumi, mengingat daerah ini memang dikenal memiliki banyak air terjun eksotis, seperti Curug Cigangsa yang sudah lebih dahulu populer di kawasan Geopark Ciletuh.
Kelebihan dan Kekurangan
Meski menawarkan keindahan alam yang memukau, Curug Luhur masih memiliki sejumlah kekurangan yang perlu mendapat perhatian.
Kelebihan:
- Panorama alam masih alami dan belum terlalu ramai wisatawan
- Cocok untuk healing, fotografi, dan wisata keluarga
- Biaya masuk terjangkau
- Berpotensi dikembangkan menjadi desa wisata berbasis alam
Kekurangan:
- Akses jalan menuju lokasi sebagian masih berupa jalur tanah dan bebatuan
- Fasilitas umum seperti toilet dan tempat istirahat masih terbatas
- Minim papan petunjuk arah
- Promosi digital belum maksimal
Kondisi ini membuat Curug Luhur masih tergolong sebagai destinasi wisata tersembunyi (hidden gem) yang belum banyak diketahui wisatawan luar daerah.
Peluang Pengembangan Wisata
Jika mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah dan promosi yang lebih masif, Curug Luhur berpeluang menjadi salah satu ikon wisata baru di wilayah Sukabumi bagian utara. Perbaikan infrastruktur jalan, penambahan fasilitas dasar, serta strategi branding digital dapat meningkatkan daya tarik wisata ini.
Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, Curug Luhur tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat desa melalui UMKM, jasa pemandu, hingga pengembangan paket wisata alam terpadu.
#PasundanUpdate
#WisataSukabumi
#CurugLuhur
#ExploreSukabumi
#WisataJabar
Editorial
Aksi di PN Sukabumi, Mahasiswa Soroti Dugaan Konflik Kepentingan dalam Perkara Wakaf

Saat Mahasiswa Membentangkan Spanduk di Gedung Pengadilan Negeri Sukabumi
Kota Sukabumi – Puluhan Mahasiswa yang mengklaim dalam organisasi KOMITE PUSAT SIPIL KOTA SUKABUMI mengadakan aksi simbolik di halaman Pengadilan Negeri Kelas IB Kota Sukabumi sebagai bentuk dukungan moril dan solidaritas kepada para penggugat dalam kasus konflik wakaf yang tengah disidangkan.
Aksi tersebut dilakukan sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai “darurat konflik kepentingan” di Kota Sukabumi. Massa aksi menyoroti dugaan konflik kepentingan yang melibatkan Wali Kota Sukabumi terkait kerja sama pengelolaan wakaf yang dinilai bermasalah secara etika dan prosedur hukum.
Dalam pernyataan sikapnya, perwakilan KOMITE PUSAT SIPIL KOTA SUKABUMI menyatakan bahwa dugaan ganda posisi pejabat publik dalam struktur lembaga yang bekerja sama dengan pemerintah daerah berpotensi menimbulkan pembekuan izin. Mereka menilai kondisi tersebut bertentangan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang bersih dan akuntabel sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2018 tentang Kerja Sama Daerah.
“Konflik kepentingan bukan sekadar persoalan etika, tetapi ancaman nyata terhadap integritas kebijakan publik. Kami tidak ingin Kota Sukabumi berada dalam situasi di mana kekuasaan digunakan untuk melegitimasi kepentingan yang memiliki keterkaitan pribadi,” ujar koordinator aksi Walid Abdul Malik, Kamis (26/2/2026).
Selain mengungkapkan dugaan konflik kepentingan, massa juga mengeluarkan mekanisme prosedur kerja yang sama yang dinilai seharusnya diduga tidak melalui persetujuan DPRD sebagaimana mestinya.
Mereka menyatakan bahwa apabila persetujuan legislatif benar-benar tidak dilakukan, maka kerja sama tersebut berpotensi menimbulkan cacat prosedur dan masalah secara administratif.
Dalam tuntutannya, KOMITE PUSAT SIPIL KOTA SUKABUMI mendesak:
1. Penghentian sementara seluruh aktivitas kerja sama dan pengumpulan wakaf hingga ada kepastian hukum.
2. Audit independen terhadap proses kerja sama yang dilakukan pemerintah daerah.
3. Transparansi penuh atas dokumen perjanjian dan aliran dana yang berkaitan dengan kerja sama tersebut.
4. Penegakan hukum tanpa memandang bulu apabila ditemukan pelanggaran.
Aksi simbolik ini juga terkandung sebagai bentuk dukungan moral terhadap para penggugat yang tengah memperjuangkan haknya melalui jalur hukum. Mereka menilai proses konferensi di Pengadilan Negeri Kelas IB Kota Sukabumi harus berjalan independen, obyektif, dan bebas dari intervensi kekuasaan.
“Upaya hukum yang ditempuh para penggugat adalah bagian dari hak konstitusional warga negara untuk mendapatkan keadilan. Kami berdiri bersama mereka demi tegaknya supremasi hukum,” tegas Walid
Aksi berlangsung damai dengan membawa sejumlah poster tuntutan serta pernyataan sikap yang menegakkan penegakan hukum dan penolakan terhadap segala bentuk konflik kepentingan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
KOMITE PUSAT SIPIL KOTA SUKABUMI menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa hukum harus ditegakkan tanpa memuat, dan tidak boleh ada kekuasaan yang kebal terhadap aturan di Kota Sukabumi.
Editorial
Wisata Edukasi Lebah Trigona di Karang Hawu Cisolok, Kolaborasi Desa Dongkrak Ekonomi Warga
SUKABUMI – Inovasi pemberdayaan ekonomi berbasis wisata terus dikembangkan di pesisir selatan Kabupaten Sukabumi. Salah satunya melalui Wisata Edukasi Lebah Trigona yang berlokasi di kawasan Karang Hawu, Desa Cisolok, Kecamatan Cisolok, Palabuhanratu.
Program ini merupakan kolaborasi antara pengelola lokal bersama Pemerintah Desa Cisolok dengan tujuan meningkatkan ekonomi masyarakat melalui budidaya madu Trigona sekaligus menghadirkan destinasi wisata edukatif.
Pengelola sekaligus pemberdaya madu Trigona, Kang Nanan, menjelaskan bahwa lebah Trigona memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang besar.

Foto : Highlander — Kang Nanan, pembudidaya lebah trigona, saat memeriksa koloni lebah di lokasi budidayanya.
“Lebah Trigona ini lebah tanpa sengat, tapi manfaatnya besar sekali. Selain membantu penyerbukan tanaman, madunya juga punya nilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
Wisata Berbasis Edukasi dan Konservasi
Wisata Edukasi Lebah Trigona menawarkan pengalaman belajar langsung kepada pengunjung tentang budidaya lebah tanpa sengat. Pengunjung dapat melihat proses pemeliharaan koloni, cara panen madu, hingga memahami pentingnya peran lebah dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Lebah Trigona dikenal sebagai spesies lebah kecil yang tidak memiliki sengat. Meski demikian, perannya sangat vital dalam proses penyerbukan tanaman.
“Kadang yang kecil dan terlihat sederhana justru punya peran besar. Trigona ini bekerja dari pagi sampai sore, menghasilkan madu sekaligus menjaga lingkungan,” kata Kang Nanan.
Konsep wisata ini mengedepankan edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Foto : Highlander — Bagian dalam sarang lebah trigona yang memperlihatkan struktur koloni dan kantong madu saat proses pemeriksaan budidaya.
Dorong Diversifikasi Wisata Cisolok
Selama ini kawasan Karang Hawu lebih dikenal sebagai destinasi wisata pantai. Kehadiran Wisata Edukasi Lebah Trigona diharapkan menjadi alternatif destinasi baru berbasis edukasi dan ekonomi kreatif.
Pemerintah Desa Cisolok mendukung penuh pengembangan wisata tersebut karena dinilai mampu membuka peluang usaha baru bagi warga, mulai dari penjualan madu, produk turunan, hingga jasa wisata edukasi.
Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, sektor UMKM lokal juga berpotensi ikut terdongkrak.
Fakta Singkat Lebah Trigona
- Tidak memiliki sengat, sehingga relatif aman untuk dibudidayakan.
- Berperan penting dalam penyerbukan tanaman dan menjaga keseimbangan ekosistem.
- Menghasilkan madu Trigona dengan rasa khas cenderung asam-manis.
- Madu Trigona dipercaya memiliki kandungan antioksidan dan antibakteri alami.
- Cocok dikembangkan sebagai usaha skala rumah tangga berbasis desa.
- Termasuk jenis lebah dari kelompok stingless bee yang banyak dibudidayakan di daerah tropis.
Peluang Ekonomi Berkelanjutan
Budidaya lebah Trigona dinilai memiliki prospek jangka panjang karena ramah lingkungan dan memiliki nilai jual tinggi. Selain itu, tren gaya hidup sehat mendorong meningkatnya permintaan madu alami di pasaran.
Dengan konsep wisata edukasi yang terintegrasi dengan pemberdayaan desa, Wisata Edukasi Lebah Trigona di Karang Hawu berpotensi menjadi model pengembangan ekonomi desa berbasis konservasi di Kabupaten Sukabumi.
Editorial
Potensi Nira dan Gula Aren Desa Gedepangrango Kadudampit Sukabumi Jadi Kekuatan Ekonomi Lokal Berbasis Kearifan Tradisional
SUKABUMI — Potensi desa di Kabupaten Sukabumi terus menunjukkan kekuatan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Salah satunya terlihat di Desa Gedepangrango, Kecamatan Kadudampit, yang tidak hanya dikenal sebagai sentra pertanian sayuran, tetapi juga memiliki potensi besar dalam produksi air nira dan gula aren sebagai komoditas unggulan masyarakat.
Berada di kawasan kaki Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, desa ini memiliki karakter geografis pegunungan dengan tanah subur, suhu sejuk, dan ketersediaan air melimpah yang sangat mendukung pertumbuhan pohon aren sebagai bahan baku utama produksi nira. Kondisi alam tersebut menjadikan aktivitas pengolahan gula aren berkembang sebagai bagian dari ekonomi rumah tangga masyarakat setempat.
Produksi nira dan gula aren di Desa Gedepangrango dilakukan secara tradisional dan telah berlangsung secara turun-temurun. Masyarakat memanfaatkan pohon aren yang tumbuh alami di sekitar lahan pertanian maupun hutan rakyat untuk disadap niranya, kemudian diolah menjadi gula merah dengan teknik sederhana menggunakan tungku kayu.
Aktivitas ini tidak hanya menjadi sumber pendapatan tambahan, tetapi bagi sebagian keluarga juga menjadi mata pencaharian utama yang menopang ekonomi rumah tangga di wilayah pedesaan.

Foto : Istimewa
Rantai Ekonomi dari Pohon Aren
Proses produksi gula aren dimulai dari penyadapan bunga pohon aren untuk mendapatkan air nira yang biasanya dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore. Nira kemudian dimasak selama beberapa jam hingga mengental sebelum dicetak menjadi gula padat.
Pengolahan ini menciptakan nilai tambah ekonomi karena nira yang dijual dalam bentuk mentah memiliki harga lebih rendah dibandingkan ketika sudah menjadi gula aren siap konsumsi.
Selain itu, produk gula aren dikenal memiliki cita rasa khas dan dianggap sebagai pemanis alami yang lebih ramah lingkungan, sehingga memiliki peluang pasar yang cukup besar seiring meningkatnya tren konsumsi produk alami.
Potensi Ekonomi Lokal yang Berkelanjutan
Kegiatan produksi gula aren di Desa Gedepangrango menjadi contoh bagaimana potensi lokal mampu memperkuat ekonomi desa berbasis sumber daya alam dan kearifan tradisional.
Selain berperan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat, aktivitas ini juga berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi desa, di mana pengunjung dapat melihat langsung proses penyadapan nira hingga pembuatan gula secara tradisional.
Pengembangan potensi ini dinilai dapat memberikan dampak ekonomi berkelanjutan sekaligus menjaga tradisi lokal agar tetap lestari di tengah perubahan zaman.
Tantangan dan Peluang Pengembangan
Meski memiliki potensi besar, produksi gula aren di tingkat desa masih menghadapi sejumlah tantangan seperti keterbatasan teknologi pengolahan, akses pasar yang belum optimal, serta kapasitas produksi yang masih berskala rumah tangga.
Namun dengan dukungan pengembangan desa wisata, pelatihan peningkatan kualitas produk, serta penguatan pemasaran, komoditas gula aren berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.
Menjaga Warisan Lokal Sekaligus Peluang Masa Depan
Potensi nira dan gula aren di Desa Gedepangrango menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi desa tidak hanya bertumpu pada komoditas pertanian utama, tetapi juga pada produk olahan berbasis tradisi yang memiliki nilai ekonomi dan budaya sekaligus.
Dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan berbagai pihak, komoditas ini berpotensi menjadi salah satu identitas ekonomi lokal sekaligus membuka peluang kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat desa.
Sumber Referensi
- Profil Desa Wisata Gedepangrango, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
- Data komoditas gula palma, Kementerian Pertanian Republik Indonesia
- Literatur penelitian agroindustri gula aren Indonesia
- Studi ekonomi desa berbasis komoditas lokal
#Sukabumi #PotensiDesa #GulaAren #Kadudampit #EkonomiDesa #DesaGedepangrango #PasundanUpdate
-
Hukum3 days agoDeadlock, Gugatan Wakaf Wali Kota Sukabumi Masuk Tahap Pembacaan Gugatan
-
Editorial2 weeks agoRamadan 1447 H Jadi Momentum Perubahan Kolektif, Bukan Sekadar Ibadah Personal
-
Headline3 weeks agoMomentum HPN 2026, Polres Sukabumi Kota dan PWI Pererat Kolaborasi
-
Laporan Khusus3 weeks agoMulai 2026, Penulisan Tempat di Akta Wajib Cantumkan Kabupaten atau Kota
-
Editorial5 days agoPotensi Nira dan Gula Aren Desa Gedepangrango Kadudampit Sukabumi Jadi Kekuatan Ekonomi Lokal Berbasis Kearifan Tradisional
-
Headline3 weeks agoBupati Sukabumi Resmikan Masjid Jami Al-Walidain di Padabeunghar Jampang Tengah
-
Editorial4 days agoWisata Edukasi Lebah Trigona di Karang Hawu Cisolok, Kolaborasi Desa Dongkrak Ekonomi Warga
-
Editorial3 days agoAksi di PN Sukabumi, Mahasiswa Soroti Dugaan Konflik Kepentingan dalam Perkara Wakaf
