Echo Chamber

MENJAGA JANGKAR KEBUDAYAAN DI ARUS DIGITALISASI

Published

on

Oleh: Rajha
Anggota Komunitas Bidang Kekaryaan Teater Sajiwa

Katanya, teknologi makin cekatan mempersingkat jarak dan waktu. Kebudayaan kerap kali seolah dipaksa berdiri di pinggir panggung—menanti dengan cemas, apakah ia masih punya tempat di tengah hiruk-pikuk zaman yang berubah begitu cepat. Tak jarang kita mendengar anggapan bahwa warisan leluhur hanyalah benda indah yang layak dipajang di museum, tetapi dianggap terlalu lambat, terlalu rumit, untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan kita yang kini serba instan.

Di tanah Indonesia yang begitu kaya sejarah ini, pertemuan antara tradisi dan kemajuan terasa semakin nyata. Dunia digital kini menjadi ruang baru tempat kita hidup, berbicara, dan berbagi. Namun, di balik kemudahannya, ada hal yang perlahan menjauh: kehangatan pertemuan tatap muka, keakraban tutur sapa, serta rasa kebersamaan yang dulu tumbuh subur di ruang-ruang komunal. Kini, keintiman itu sering kali hanya berubah menjadi angka di layar, menyisakan kita yang kadang merasa sepi di tengah keramaian dunia maya.

Satu hal yang membuat kita prihatin adalah makin seragamnya selera kita. Hal-hal yang rumit, mendalam, dan sarat makna perlahan tersisih demi sesuatu yang cepat dan mudah viral. Seni tradisi yang membutuhkan kesabaran dan penghayatan mendalam sering kali dianggap tak lagi relevan. Akibatnya, banyak dari kita yang lebih hafal tren luar negeri daripada memahami makna di balik gerak tari, irama musik, atau tutur sastra yang lahir dari tanah kita sendiri.

Teater Sajiwa

Tentu saja, kita tak perlu menutup diri dari kemajuan atau sekadar meratapi masa lalu. Yang kita butuhkan adalah kebijaksanaan: menjadikan teknologi sebagai jembatan, bukan tembok. Menerjemahkan nilai-nilai luhur leluhur ke dalam bahasa yang dapat dipahami oleh generasi sekarang, tanpa mengurangi sedikit pun esensinya.

Di tengah kekhawatiran ini, ada sosok yang hadir membuktikan bahwa menjaga akar sekaligus melangkah jauh ke depan adalah hal yang mungkin dilakukan dengan penuh keanggunan. Beliau adalah Indra Gandara, S.Pd., M.Pd.—seniman, koreografer, akademisi, dan budayawan berprestasi kelahiran Sukabumi, 20 Juni 1992—yang telah mendedikasikan hidupnya untuk meriset, menghidupkan kembali, dan memajukan kearifan budaya Nusantara.

Beliau menamatkan pendidikan Magister Pendidikan Seni di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2025 serta memegang sertifikat kompetensi Stage Manager resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan LSP Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Fondasi ilmu yang kokoh ini tidak menjauhkan beliau dari kenyataan, melainkan mengarahkan setiap langkah karyanya agar selalu berakar kuat di bumi pertiwi.

Selama lebih dari satu dekade berkarya, Indra Gandara telah melahirkan karya-karya yang tak lekang oleh waktu. Ada Jagat Suwung, yang sejak tahun 2017 telah tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia; Kokoprak, karya yang mengangkat filosofi ekologis alat bambu pengusir hama tradisional dan memukau penonton di India pada tahun lalu; hingga karya terbarunya yang dipentaskan secara kolosal pada 14 Juni 2026 di Gedung Juang 45 Sukabumi, berjudul Kumāra Lemah Karuhun: The Last Guardian. Karya berbasis riset mendalam ini memadukan musik tradisi, teater, tari, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI), serta mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan LPDP.

Beliau juga telah menulis buku Kampung Adat Cireundeu: Warisan Budaya Leluhur dan Lanskap Tari Nusantara: Dari Ritual ke Seni Pertunjukan, yang menjadi rujukan berharga bagi siapa saja yang ingin mendalami sejarah dan makna budaya Indonesia.

Nama beliau pun kini mulai dikenal di kancah internasional. Pada tahun 2020, beliau menjadi pemateri di KBRI Helsinki, Finlandia, memperkenalkan keindahan musik karinding beserta nilai budaya Nusantara. Tahun 2025, karya Nafas Bambu tampil memukau dalam Busan International Performing Arts Festival di Korea Selatan. Beliau juga dipercaya memimpin berbagai perhelatan besar, mulai dari Program Director Festival Aku dan Bambu Nusantara hingga Pimpinan Produksi Bandung Isola Performing Arts Festival (BIPAF) Internasional edisi ke-8 dan ke-9.

Namun, di tengah segala pencapaian itu, sosok Indra Gandara tetaplah rendah hati dan dekat dengan masyarakat. Beliau aktif menggerakkan komunitas di Sajiwa Community Sukabumi dan Warangka Dance Company, serta menciptakan teater Tapak Lacak yang menyuarakan harapan hidup para petani. Beliau juga mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Seni, Budaya, dan Olahraga Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Sukabumi.

Beliau memahami betul bahwa kebudayaan tidak dapat dikelola secara kaku, melainkan harus disentuh dengan hati. Di saat banyak pihak mengubah seni tradisi sekadar demi tampilan yang menarik di media sosial, beliau tetap setia menyajikannya dengan penghormatan tinggi terhadap esensi aslinya.

Melihat perjalanan hidup dan karya beliau, hati kita tergerak. Ada seseorang yang berjuang dalam diam menjaga nyala pelita warisan leluhur agar tidak padam. Ada tempat di mana kita dapat belajar kembali mencintai asal-usul, memahami makna di balik setiap gerak dan irama, serta menemukan kembali jati diri yang sempat tergerus zaman. Sungguh, siapa pun yang berkenan berkunjung, berdialog, atau belajar bersama beliau akan mendapati bahwa kebudayaan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan jalan cahaya yang menuntun kita menuju masa depan yang lebih bermartabat.

Perjuangan ini tentu tak dapat dijalani sendirian. Di sinilah peran komunitas menjadi sangat berharga: menjadi ruang tempat pengetahuan mengalir dari generasi yang lebih tua kepada generasi muda, tempat semangat baru bertemu dengan kebijaksanaan pengalaman untuk bersama-sama merawat warisan budaya.

Pada akhirnya, menjaga kebudayaan adalah tugas kita bersama. Ia bukan kisah yang telah selesai, melainkan cerita yang terus kita tulis setiap hari. Selama akar kita tetap menancap kuat di tanah asal, kita tak akan pernah tersesat, ke mana pun arus zaman membawa kita berlayar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Favorit

Exit mobile version